Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ?

“Apa yang dicari dalam hidup ini ?”, sebuah pertanyaan yang sering ditemukan di media jejaring sosial dan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin salah seorang yang mempertanyakannya.

Kalau kita cermati pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang sesungguhnya. Lebih kepada perasaan kebingungan atau bahasa yang kini sedang populer adalah kegalauan.

Sedari kecil kita telah diarahkan atau dibimbing oleh orang tua kira-kira akan kemana kita setelah dewasa. Ini yang sering disebut dengan cita-cita. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, arsitek, tak sedikit pula yang bercita-cita menjadi presiden dan tentu masih banyak lagi lainnya.

Pada masa remaja dan kuliah mulai timbul kegamangan karena seringkali pendidikan kita tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan dulu. Kalaupun ada kesesuaian masih ada sedikit keraguan, apakah benar jalan yang diambil?

Kegamangan dan keraguan ini mulai membiaskan cita-cita kita. Dari mau menjadi dokter berubah menjadi ingin kaya raya. Cita-cita presiden berubah pikiran menjadi berusaha untuk sukses. Cita-cita yang tadinya spesifik melebar lebih umum, ingin menjadi orang sukses dan kaya raya.

Dalam perjalanan menggapai sukses dan kaya raya ternyata tidak mudah, banyak halangan dan kesulitan. Begitu beratnya jalan yang harus ditempuh lalu membuat kita bingung atau galau, sampai terlontar pertanyaan di atas, “Apa yang dicari dalam hidup ini ?”.

Sebenarnya kita tahu apa yang dicari, yaitu cita-cita kita. Tapi karena untuk menggapai cita-cita tidaklah mudah, kita menjadi bingung dan galau. Kenapa begitu sulit mencapainya ? Kemudian agar lebih mudah tercapai kita memperlebar tujuan hidup menjadi orang sukses atau kaya raya, kalau bisa kedua-duanya sekaligus. Ternyata masih sulit juga sehingga timbullah kebingungan dan kegalauan.

Kita pasti tak akan bingung dan galau kalau kita tahu, untuk apa kita bercita-cita. Kenapa ingin sukses dan kaya ? Apa kita tahu ? Banyak yang tidak tahu.

Banyak yang tidak tahu ? Apakah rahasia ? Sama sekali bukan rahasia. Hanya banyak diantara kita yang tidak tahu apa tujuan hidup sebenarnya. Kita ingin menggapai cita-cita, kesuksesan dan kekayaan, tak lain tak bukan karena kita ingin kebahagiaan.

Mengejar cita-cita, kesuksesan dan kekayaan kita tahu tidak gampang dan kalaupun terwujud memang bisa menambah kebahagiaan tapi belum tentu membuat kita bahagia. Sedangkan kebahagiaan itu sendiri sebenarnya jauh lebih mudah dirasakan karena tidak bergantung kepada cita-cita, sukses dan harta berlimpah. Kebahagiaan itu ada dalam pikiran dan hati kita sendiri sehingga tidak perlu dicari dan dikejar. Cukup diupayakan dengan selalu ikhlas dan mensyukuri kehidupan kita. Ya sederhana saja, ikhlas dan bersyukur. Tapi tentu saja bukan hanya di mulut melainkan melebur dalam pikiran dan hati kita.

Kalau kita tahu tujuan hidup kita adalah kebahagiaan, bukan kesuksesan dan kekayaan. Lalu upayakanlah dengan senantiasa ikhlas dan bersyukur dalam sikap dan perbuatan kita. Niscaya tak akan ada kebingungan atau kegalauan sehingga tidak ada lagi pertanyaan absurd,“Apa yang dicari dalam hidup ini?”.

KITA BUKAN MENCARI TAPI MENJALANI DAN MENGUPAYAKAN KEHIDUPAN YANG BAHAGIA, TIDAK HANYA BUAT DIRI SENDIRI MELAINKAN ORANG BANYAK.

Jumat, 30 September 2011

KETIKA IMPIAN BERUBAH MENJADI MIMPI BURUK


Kita sebagai manusia pasti memiliki banyak impian. Ada yang memiliki impian mendapatkan pasangan seorang putri atau pangeran nan rupawan. Ada yang bermimpi menjadi seorang Presiden. Tak sedikit yang berfantasi terbang ke luar angkasa. Banyak juga yang impiannya sederhana saja, memiliki sebuah rumah yang cukup nyaman bagi keluarganya yang bahagia.

Karena ada dalam pikiran kita sendiri, bukan di dunia nyata, impian itu bebas tak terbatas. Dari impian irasional yang mustahil dapat diwujudkan sampai impian rasional yang lebih mudah terwujud. Impian irasional biasanya berupa khayalan-khayalan bagai di negeri dongeng yang tak ditemukan di dunia nyata. Bagi sebagian orang khayalan di pikirannya mungkin sebagai hiburan semata untuk sejenak melupakan dunia nyata. Bagi sebagian lagi, khayalan ini sangat penting karena berguna dalam profesinya, seperti seniman, novelis, sineas dan sebagainya.

Tentu tak semua orang suka berkhayal seperti itu. Mereka lebih suka membumi. Impian mereka rasional, dapat diwujudkan secara nyata. Berbeda dengan impian irasional yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, impian rasional biasanya terbatas di masa yang akan datang di suatu tempat yang paling masuk akal didiami manusia.

Impian rasional adalah suatu keinginan manusia di masa depan yang mungkin dapat diwujudkan. Impian ini bisa berupa tujuan jangka panjang seperti cita-cita atau harapan-harapan besar dan tujuan jangka pendek yang bisa disebut harapan kecil.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut kita tentu harus melakukan berbagai tindakan nyata yang konsisten. Tindakan dan pekerjaan yang kita lakukan itu sudah pasti tidak singkat dan tidak mudah. Membutuhkan serangkaian proses yang panjang berliku-liku, naik turun bahkan jatuh bangun.

Dalam proses ini kita mengalami susah, senang, sedih, semangat, suka dan duka. Seandainya lebih banyak suka tentu tak banyak masalah bagi kita. Bagaimana kalau ternyata lebih banyak duka ? Sedangkan dalam kehidupan nyata umumnya kita mungkin lebih banyak merasa mengalami duka daripada suka. Jika kita kurang bijak dalam menyikapi, menghadapi dan mengatasinya maka impian yang indah bisa berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan.

Agar impian indah tidak menjadi mimpi buruk melainkan menjadi kenyataan yang membahagiakan, apapun proses yang kita alami suka duka, jatuh bangun atau naik turun nikmatilah dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan kepada Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan. Proses yang kita lakukan ini berhasil atau tidak, tergantung dari cara kita memandang dan menilainya.

Contoh sederhana misalkan kita sekarang berada di Jakarta dan memiliki impian pergi ke Bali. Untuk mewujudkan impian itu, tindakan pertama tentu memilih transportasi yang akan digunakan. Ada pesawat terbang, bis, kereta api, mobil, sepeda motor, sepeda dan berjalan kaki. Kalau cukup memiliki uang kita pilih pesawat terbang. Pilihan ini bukan ingin bersombong ria, contoh transportasi lain kalau ditulis di sini bisa sangat panjang. Bisa jadi sebuah buku kisah suka-duka sebuah perjalanan.

Pesawat terbang proses perjalanannya memang relatif lebih cepat, mudah dan nyaman daripada pilihan transportasi yang lain. Tapi benarkah sangat mudah ? Ketika memesan tiket bisa saja kita kehabisan. Sudah dapat tiket berada di bandara mungkin saja mendadak penerbangan ditunda atau malah dibatalkan. Berhasil naik ke pesawat ternyata duduk di sebelah orang yang mabuk udara. Dalam perjalanan terbang sangat mungkin pesawat mengalami gangguan cuaca atau teknis. Bisa dibayangkan jika kita tidak menyikapi, menghadapi dan mengatasi semua keadaan buruk itu dengan bijak. Impian kita ke Bali berubah menjadi mimpi buruk yang menyebalkan bahkan mengerikan.

Kalau kita bijak. Ketika kehabisan tiket atau penerbangan ditunda, ikhlaskan saja siapa tahu Tuhan memang menghendaki kita menunda perjalanan karena kita belum benar-benar siap. Mungkin ada yang lupa terbawa atau barangkali perlu lebih mematangkan rencana. Kalau benar seperti itu syukurilah. Waktu duduk bersebelahan dengan orang yang mabuk udara, Ikhlaslah dan bersyukurlah Tuhan memberi kesempatan kita untuk membantu teman baru kita tersebut. Alih-alih tanpa diduga ternyata setelah ditolong, teman sebelah kita ini mau membantu akomodasi kita selama di Bali. Luar biasa bukan ? Pada saat pesawat mengalami gangguan cuaca atau teknis, Ikhlaskan sepenuhnya semua hidup mati kita kepadaNya. Bisa saja sebelum berangkat kita lupa kepada Tuhan. Lupa berdoa. Dalam situasi ini kita seperti diingatkan dengan keras agar tidak melupakan Kuasa Tuhan. Bersyukurlah Tuhan masih berkenan mengingatkan kita.

Sebelum sampai ke Bali, sebelum impian kita terwujud. Sebenarnya kita telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam proses menuju impian itu. Dilihat dari sudut pandang spiritual kita telah berhasil. Berhasil menemukan Keagungan Tuhan. Tentu pengalaman ini sangat membahagiakan.

Jumat, 16 September 2011

KENAPA KITA LEBIH MENGINGINKAN SUKSES DAN KAYA DARIPADA BAHAGIA ?

Boleh dibilang semua orang ingin hidup bahagia. Ada yang bercita-cita mau menjadi orang sukses, itu pasti karena ingin hidup bahagia. Jika ada yang berusaha bekerja keras mengumpulkan banyak harta agar kaya raya, tak lain tak bukan dia tentu ingin hidup bahagia.

Sesungguhnya kebahagiaan menjadi tujuan hidup banyak orang. Tapi kalau ditanya, “Apa  tujuan hidupmu ?” jawaban yang sering kita dengar dan katakan adalah : “Saya ingin sukses” atau “Saya mau jadi orang kaya raya”. Jarang orang menjawab, “Saya ingin bahagia”.

Kenapa begitu ? Salah satu alasan utama adalah karena banyak orang tidak memahami makna kebahagiaan. Mereka sering menyamakan arti kebahagiaan dengan kesenangan. Acapkali rancu pengertian kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.

Kesenangan itu suatu aktivitas yang kita sukai, seperti hobi. Misalnya memancing, bepergian, berolahraga atau pekerjaan yang kita sukai. Kegembiraan adalah suatu keadaan dan kondisi meriah yang membuat kita tertawa dan bersorak. Umumnya dilakukan oleh sekumpulan orang seperti misalnya pesta ulang tahun dan berbagai kemeriahan lainnya. Sedangkan kenikmatan biasanya berkaitan dengan pemanjaan tubuh seperti makan enak, spa, pijat dan sebagainya. Pada dasarnya kegembiraan dan kenikmatan menimbulkan juga kesenangan sehingga untuk selanjutnya dalam tulisan ini kegembiraan dan kenikmatan disebut saja dengan kesenangan.

Dengan kesuksesan dan kekayaan kita bisa mendapatkan banyak kesenangan. Kesuksesan adalah puncak dari pekerjaan atau kegiatan yang kita sukai sehingga menjadi puncak kesenangan kita. Sedangkan dengan kekayaan kita bisa membeli semua kesenangan yang kita mau. Kita mengejar kesuksesan dan kekayaan sesungguhnya untuk memperoleh kesenangan. Karena banyak orang rancu antara kesenangan dan kebahagiaan maka kita berusaha mencari kesenangan melalui kesuksesan dan kekayaan. Bukan menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya menjadi tujuan hidup banyak orang.

Lalu apa bedanya kesenangan dan kebahagiaan ? Kesenangan memang membahagiakan tapi hanya sementara. Kesenangan kita rasakan hanya saat keadaan tersebut berlangsung. Kesenangan karena kesuksesan, berapa lama dapat dirasakan ? Biasanya setelah satu kesuksesan berlangsung beberapa saat kita akan merasa biasa lagi, tidak merasakan kesenangan. Lalu kita mencoba meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi untuk mendapatkan kembali kesenangan. Mungkin bisa lebih sukses, mungkin juga malah gagal. Kalaupun sukses lagi, berapa lama merasakan kesenangan ? Sebentar saja. Demikianlah seterusnya mungkin seumur hidup kita, kesuksesan demi kesuksesan hanya menimbulkan kesenangan sementara saja.

Kesenangan dari kekayaan, berapa lama dapat bertahan ? Dengan kekayaan kita bisa membeli satu kesenangan, setelah beberapa saat kita mulai bosan. Lalu kita mencoba mencari kesenangan lain, kemudian bosan lagi. Terus kesenangan demi kesenangan coba diraih tapi tak juga kunjung terpuaskan. Kesenangan dari kekayaan juga hanya sementara.

Sedangkan kebahagiaan adalah suatu kondisi kejiwaan dan spiritual yang senantiasa bersyukur dan menerima kehidupan dalam kondisi apapun termasuk senang, susah, sukses, gagal, kaya, sederhana, suka maupun duka. Kesenangan hanya sebagian kecil saja dari kebahagiaan. Kebahagiaan memiliki makna lebih luas, mendalam dan pasti tidak bersifat sementara.

Dalam kehidupan ini kita pasti tidak mungkin terus menerus mengalami kesenangan. Kalaupun misalnya sampai ada yang terus menjalani kesenangan, suatu saat pasti akan merasa biasa saja, tidak lagi merasakan kesenangan. Sekali waktu kita harus merasakan susah, sedih, duka dan sejenisnya sebagai kenyataan dan variasi kehidupan. Cobalah kita bayangkan jika seseorang dari lahir sampai dewasa selalu makan dan minum manis tanpa pernah merasakan pahit, asin dan tawar. Dia pasti tidak tahu lagi arti manis karena tidak pernah merasakan variasi pembanding rasa yang lain. Pahit, manis, susah, senang, gagal, berhasil, sedih, gembira, suka dan duka adalah kenyataan yang mewarnai hidup kita.

Seseorang yang hanya mengejar kesenangan akan merasa tidak bahagia bahkan bisa stres, depresi, gangguan jiwa dan paling tragis bunuh diri ketika dia sedang mengalami berbagai peristiwa, masalah dan kesulitan yang menimbulkan kesedihan dan kesusahan.

Seseorang yang berbahagia akan selalu memandang masalah, kesulitan, kesedihan dan kesusahan yang dialaminya dari sudut pandang yang berbeda. Dia akan menerima dengan ikhlas semua masalah, kesulitan dan duka yang tentu tak dapat dihindari sebagai kenyataan yang mewarnai hidup. Dia bahkan akan mensyukurinya karena mendapatkan tantangan dan petualangan berharga sebagai ujian kenaikan tingkat menuju kehidupan yang lebih baik.

Menjalani hidup bahagia adalah bagaimana pola pikir, meramu, menghadapi dan  mengatasi susah, senang, sedih, gembira, gagal, berhasil, suka, duka dan semua kondisi kehidupan dengan bijak sehingga menjadi warna-warni yang indah. Menjalani hidup bahagia adalah seni bukan matematika karena begitu luas dan beragamnya kehidupan, tidak ada rumus atau kiat-kiat tertentu yang pasti. Namun sebenarnya dapat disederhanakan menjadi 2 elemen atau unsur penting yang ada dalam menjalani hidup bahagia yaitu IKHLAS dan BERSYUKUR.

Kala kita senantiasa ikhlas dan bersyukur dalam menjalani kehidupan dalam kondisi apapun, kita akan merasakan kebahagiaan. Untuk ikhlas dan bersyukur kita tidak perlu bersusah payah mencarinya kemana-mana, ada dalam diri kita sendiri. Ciptakanlah kebahagiaan itu di pikiran dan hati kita.

Kalau kita bahagia maka otomatis kita sukses karena telah mencapai puncak kesenangan kita. Jika kita bahagia jelas kita kaya raya karena telah mendapatkan kesenangan yang terpuaskan. JADI KITA SUKSES DAN KAYA ITU KARENA BAHAGIA bukan sebaliknya, bahagia karena sukses dan kaya. Mulai sekarang manakala ada orang bertanya, “Apa tujuan hidup anda ?” atau “Apa cita-cita anda ?”, jawablah dengan yakin dan percaya, “SAYA INGIN BAHAGIA !”

Jumat, 09 September 2011

ADAKAH MAAF LAHIR ATAU MAAF BATIN ?



Minggu lalu kita seringkali mendengar atau membaca kalimat, “Maaf lahir dan batin”. Tak aneh memang karena kalimat tersebut selalu mengiringi perayaan Hari Raya Idul Fitri. Kalau saja misalnya seorang mengucapkan, mendengar, menuliskan dan membaca kalimat itu 100 kali maka di seluruh Indonesia ada lebih dari 20 milyar rangkaian kata itu terdengar dan terbaca. Seorang yang telah berusia 30 tahun bisa jadi telah akrab dengan 4 rangkaian kata itu di telinga dan bibirnya lebih dari 3000 kali selama hidupnya. Luar biasa bukan ?

Tapi tulisan ini bukan artikel matematika yang membahas hitung-menghitung. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas berapa kuantitas kalimat “maaf lahir dan batin” yang berseliweran di sekitar kita. Juga sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan atau mengkritisi suatu ritual dalam keyakinan beragama. Malah mungkin semakin menyegarkan kembali pemahaman kita tentang makna mendalam dari kata “maaf” yang barangkali disini tidak mengulasnya berdasarkan perspektif keagamaan.

Dalam tulisan yang sederhana dan ringkas ini akan dikemukakan sedikitnya ada 2 logika ganjil atau paling tidak menggelitik pikiran berkaitan dengan kalimat tersebut. Logika pertama, semakin sering kita ber “maaf lahir dan batin” semestinya kita semakin sedikit melakukan kesalahan dan semakin sedikit dendam kepada orang lain. Pada intinya kita semakin menjadi lebih baik, tenteram dan damai. Anehnya kenyataan sekarang yang kita lihat dan rasakan tidaklah demikian. Kita semakin banyak berbuat kesalahan bahkan kesalahan yang sama terus terjadi berulangkali seperti misalnya korupsi. Semakin banyak perselisihan dan kekacauan antar suku, agama, ras dan faham (SARAF). Bahkan juga keributan dalam 1 SARAF. Logika yang aneh tapi nyata bukan ? Itulah yang terjadi kini.

Logika kedua, selama ini kita selalu mendengar “maaf lahir dan batin”, anehnya di luar lebaran kita tidak pernah sekalipun mendengar atau menggunakan kata “maaf lahir” atau “maaf batin”. Logikanya kalau ada “maaf lahir dan batin” tentu ada “maaf lahir” atau “maaf batin”. Semestinya ketiga kalimat itu sering terdengar dan dipakai tapi kenyataannya mengapa hanya 4 rangkaian kata itu saja yang ada ?

Dalam bahasa sehari-hari diluar lebaran kita hanya menggunakan kata “maaf” saja. Mungkin diantara kita ada yang bisa menjelaskan berdasarkan keyakinan agama mengapa di saat Idul Fitri kita memakai kalimat “maaf lahir dan batin”. Pastinya bukan karena terjemahan dari bahasa Arab. Jelas ada alasan tertentu.

Meskipun demikian diluar alasan keagamaan, tulisan ini mencoba sedikit menelaah makna “maaf” yang sesungguhnya mendalam. Barangkali ada penambahan “lahir dan batin” setelah kata “maaf” sebagai penekanan makna yang dalam. Mengucapkan kata “maaf” tidak hanya di mulut yang merupakan wujud lahir tapi juga harus keluar dari hati sebagai wujud batin. Jadi “maaf lahir dan batin” adalah penekanan dari maaf yang terucap di mulut tapi berasal dari hati kita yang paling dalam.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kalau kita memohon maaf tanpa embel-embel “lahir dan batin”, artinya tidak berasal dari hati ? Tentu saja tidak. Hanya dalam konteks Idul Fitri sebagai Hari Raya yang istimewa perlu penekanan khusus dalam memaknai maaf. Rasanya aneh kalau diluar lebaran kita bilang, “Maaf lahir dan batin” kepada sahabat dan saudara kita. Rangkaian kata tersebut adalah keistimewaan Idul Fitri dari sebuah makna “maaf”.

Diluar konteks lebaran, kata “maaf” yang kita ucapkan di mulut seharusnya berasal dari hati terdalam sebagai bentuk penyesalan atas kesalahan kita dan berupaya tidak berbuat kesalahan yang sama di masa kini dan masa datang. 
  
Kembali kepada logika ganjil pertama, mencoba menduga penyebabnya. Mungkin saja karena “maaf lahir dan batin” terlalu sering disebut dan didengar, justru jadi kehilangan makna. Kalimat itu dianggap sebagai basa-basi dalam mengucapkan Selamat Idul Fitri. Menjadi rutinitas dalam perayaan lebaran setiap tahun tanpa makna.

Tapi sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud mempertanyakan kalimat “maaf lahir dan batin” dalam ritual sakral keyakinan beragama. Tulisan ini hanya bermaksud menyampaikan ada logika ganjil yang menggelitik pikiran semua orang yang memahami makna dari sebuah kata “M A A F”. Kata yang sederhana terdiri dari 4 huruf tapi sesungguhnya memiliki arti luar biasa dalam kehidupan.

Akhir kata tentu saja kami memohon maaf yang bukan basa-basi jika ada kalimat yang kurang baik dan mungkin sedikit membuat kita bingung atau apapun yang kurang berkenan. Kalau hal itu sampai terjadi pasti ada kesalahpahaman yang tidak disengaja karena tulisan ini semata-mata dibuat untuk tujuan kebaikan dan kebahagiaan kita semua.



   

Jumat, 26 Agustus 2011

MENYUMBANG UNTUK “MERAYU” TUHAN ?

Kita pasti menyadari dalam kehidupan selalu ada suka dan ada duka. Ada yang beruntung dan ada yang bernasib malang. Ada yang mampu dan ada yang kebetulan kurang mampu. Kadang kita mengalami kehidupan yang cukup baik, bahkan mungkin sangat baik. Kadang pula kita mengalami saat-saat buruk seperti mengalami musibah, bencana alam atau bangkrut secara ekonomi.

Ketika kita sedang mengalami duka, kemalangan atau kurang mampu secara ekonomi, kita pasti sangat mengharapkan bantuan atau pertolongan orang lain. Pertolongan yang sedikit atau banyak bisa mengangkat kita dari keterpurukan.

Kalau kita ingin dibantu ketika susah, demikian pula dengan orang lain. Mereka yang mengalami kesulitan hidup pasti membutuhkan pertolongan. Kita yang kebetulan lebih beruntung kehidupannya sudah selayaknya membantu mereka. Kita membantu karena kita juga ingin dibantu manakala mengalami nasib seperti mereka.

Bantuan yang kita berikan bisa berupa materi atau non materi. Bantuan materi biasanya berupa sumbangan uang atau barang. Bantuan non materi bisa berupa pikiran dan tenaga.

Apapun bantuan yang diberikan hendaknya tulus ikhlas bagi kebaikan orang yang dibantu dan masyarakat banyak. Bukan untuk kebaikan kita sendiri.

Kadang kala kita memberikan sumbangan atau bantuan dengan harapan Tuhan akan melimpahkan banyak rejeki kepada kita. Mungkin tidak salah, katakanlah kita “merayu” Tuhan dengan melakukan kebaikan seperti itu. Tapi rasanya terlalu naif jika kita berpikir bisa “membujuk” Sang Maha Adil dengan berbagai sumbangan bagi kepentingan kita sendiri. 

Kalaupun rejeki kita semakin lancar setelah memberikan banyak amal, itu bukan karena “rayuan” kita berhasil. Kebetulan pada saat itu Tuhan memang menghendaki untuk meminjamkan hartaNya kepada kita. Harta yang kita dapat itu bukanlah imbalan dari sumbangan dan bantuan kita. 

Jikalau kita mengharapkan imbalan dari Maha Kuasa, mungkin bukan berupa rejeki di dunia fana ini. Selayaknya kita tidak mengharapkan imbalan apapun atas ketulusan dan keikhlasan bantuan kita. Kecuali mengharapkan kebaikan bagi banyak orang.

Jumat, 19 Agustus 2011

KORUPSI ITU ENAK, KENAPA NGGAK BOLEH ?

Kita pasti tahu, setelah 66 tahun Indonesia merdeka, korupsi semakin merajalela di hampir semua lapisan masyarakat. Mengapa bisa begitu ? Jawabannya sederhana, korupsi itu enak bagi diri sendiri dan kesempatan ada. Kalau kesempatan itu belum ada, dicari-cari dan dibuat-buat supaya ada.

Lho kenapa bisa dibuat-buat ? Karena aturannya longgar. Kalaupun aturan ketat, pelaksanaan dan pengawasan dari aturan itu yang menyimpang. Kok menyimpang ? Ya tak lain tak bukan karena pejabatnya juga keenakan korupsi. Pejabatnya korupsi, masyarakat di bawah ikut meneladaninya. Karena memang enak.

Kalau korupsi enak, kenapa nggak boleh ? Korupsi itu arti sederhananya mengambil dan memiliki sesuatu yang bukan haknya, setali tiga uang dengan mencuri. Mencuri itu enak bagi si pencuri tapi sama sekali tidak enak bagi yang dicuri. Apa kita mau dicuri ? ya pasti nggaklah. Kalau kita tidak mau dicuri, ya jangan mencuri hak orang lain.

Dalam hal korupsi yang dicuri adalah uang negara, hak orang banyak, bukan hak kita sendiri. Uang negara dipergunakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat. Kalau dikorupsi, peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Masyarakat tidak atau kurang mendapatkan haknya. Akibatnya terjadi ketimpangan sosial yang besar. Si koruptor menjadi semakin kaya raya, sementara masyarakat banyak tetap miskin, bahkan mungkin semakin miskin.

Uang negara juga dipergunakan untuk pembangunan infrastuktur seperti jalan raya, jembatan, pelabuhan, gedung sekolah dan sebagainya. Kita ambil contoh jalan raya. Jika anggaran untuk pembangunan jalan raya semakin berkurang akibat dikorupsi, tentu kualitas jalan juga semakin buruk. Dampaknya banyak sekali jalan raya yang belum lama dibangun atau diperbaiki menjadi berlubang di sana-sini, bergelombang dan rusak. Kerusakan jalan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, termasuk juga si koruptor itu sendiri.

Itu baru satu contoh saja. Pada intinya korupsi mengurangi anggaran pembangunan infrastuktur yang mengakibatkan penurunan kualitas sarana yang dibangun. Banyak infrastuktur yang cepat rusak. Kerusakan ini jelas dirasakan langsung oleh masyarakat dan si koruptor itu sendiri.

Korupsi itu enak bagi si koruptor sendiri dan bersifat sementara. Dalam jangka panjang korupsi akan merusak bangsa dan negara termasuk si koruptor akan merasakan akibatnya.

Korupsi itu enak tapi lebih enak tidak korupsi agar pembangunan berjalan baik dan merata. Kita semua merasakan manfaatnya. Si miskin semakin sejahtera dan si kaya tetap sejahtera lahir dan batin.

Itu kalau korupsi uang negara, bagaimana kalau korupsi kecil-kecilan sekedar untuk menyambung hidup, boleh nggak ? Korupsi kecil-kecilan itu awalnya, selanjutnya bisa menjadi cikal bakal korupsi besar-besaran. Lho kenapa ? Ya pasti ketagihan. Kecil-kecilan aja enak apalagi besar-besaran. Siapa yang bisa menjamin kalau kita tidak ketagihan ?

Korupsi itu enak buat menyambung hidup tapi jauh lebih enak kita mencari nafkah dengan cara yang benar agar kita tenang, nyaman dan tidak ketagihan untuk korupsi besar-besaran. Korupsi kecil adalah cikal bakal korupsi besar.

Jumat, 12 Agustus 2011

SALING MEMAAFKAN PENYELESAIAN TERBAIK KESALAHPAHAMAN

Sebaris kalimat yang kita ucapkan atau tuliskan, bisa ditanggapi dan direspon berbeda oleh setiap orang. Misalkan seorang pria mengucapkan, “Anda cantik” kepada 3 orang wanita di waktu dan tempat berlainan. Katakanlah ketiga wanita tersebut bernama A, B dan C.

Si A seorang wanita berpenampilan biasa saja yang suka berdandan akan menanggapinya dengan senang hati dan menganggapnya sebagai pujian lalu merespon dengan tingkah laku yang lebih bersahabat.

Si B berpenampilan memang cantik dan sudah sering mendapat pujian seperti itu, akan menanggapi dan merespon biasa saja karena menganggapnya sebagai rayuan banyak pria kepadanya.

Wanita ketiga si C berpenampilan kurang menarik, akan merasa tidak senang, bahkan dianggapnya sebagai hinaan atau olok-olok. Dia marah dan pergi.

Ilustrasi itu hanya melihat sedikit faktor dari sangat banyak faktor yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang. Faktor yang belum dilihat seperti kedekatan hubungan antara si pria dan wanita, suasana lingkungan, latar belakang kehidupan, topik pembicaraan, cara berbicara dan banyak lagi.

Semua faktor tersebut yang membuat suatu aksi menimbulkan banyak reaksi yang berlainan. Sepatah kalimat pujian bisa dianggap hinaan, demikian juga sebaliknya suatu hinaan bisa ditanggapi sebagai sebuah dorongan. Sebuah niat baik bisa ditanggapi tidak baik dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Ketika suatu aksi menimbulkan reaksi yang tidak sesuai harapan, terjadilah kesalahpahaman yang disebabkan oleh faktor-faktor yang diuraikan di atas. Kita sulit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Akibatnya sering terjadi salah paham. Sesuatu yang kita sampaikan ditanggapi berbeda dari yang diharapkan. Kesalahpahaman ini tentu terjadi secara tidak sengaja dan banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesalahpahaman jelas menimbulkan masalah, dari ringan sampai berat. Masalahnya adalah satu pihak merasa pihak lain melakukan kesalahan terhadap dirinya dan salah satu atau kedua belah pihak belum tahu kalau hal itu terjadi karena kesalahpahaman. Salah satu pihak tanpa sadar dan tanpa sengaja melakukan kesalahan.

Kesalahpahaman ini justru paling banyak terjadi dalam hubungan keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Kedekatan hubungan, intensitas bertemu dan berinteraksi menyebabkan komunikasi kurang terkontrol. Merasa masih satu keluarga, masing-masing anggotanya kurang peduli dengan tata cara dan tata krama berkomunikasi.

Sebagai contoh kecil. Seorang suami sebagai kepala keluarga merasa wajar dan berhak membentak dan menghardik istri dan anaknya. Bentakan dan hardikan ini sesungguhnya bertujuan dan bermaksud baik, mungkin bagi si suami untuk kedisiplinan. Tanpa disadari sang ayah, “maksud baik ini” telah melukai perasaan buah hatinya sendiri. Lebih parah lagi istri dan anaknya takut atau segan atau tidak mau mengatakan terus terang perasaannya yang terluka. Kalaupun mau mengatakannya, sang ayah tidak mau mendengarkan atau mendengar tapi tak peduli. Bisa dibayangkan jika kesalahpahaman antara “maksud baik ayah” dengan perasaan terluka istri dan anak ini berlangsung bertahun-tahun.

Kalau saja sang ayah tahu tata cara dan tata krama berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Lalu istri dan anak dapat melakukan komunikasi dengan baik, mengungkapkan bahwa mereka merasa terluka dan tidak nyaman atas perlakuan ayahnya. Kesalahpahaman dalam hubungan keluarga bisa dikurangi seminimal mungkin.

Salah satu tata cara dan tata krama berkomunikasi yang terpenting adalah memohon dan memberi maaf secara tulus. Kesalahpahaman adalah kesalahan yang terjadi tanpa sengaja dan tanpa disadari. Kesalahan seperti ini sangat patut untuk saling memaafkan.

Rabu, 08 September 2010

KETULUSAN SALING MEMAAFKAN MEMBAWA KEBAHAGIAAN

Hari Raya Idul Fitri adalah hari untuk saling memaafkan bagi saudara kita yang beragama Islam. Semua menghaturkan ucapan mohon maaf lahir dan batin, baik secara lisan atau melalui kartu ucapan dan sekarang yang trend melalui teknologi SMS. Bahkan di banyak negara terutama Indonesia yang sebagian besar berpenduduk Islam, mereka dengan senang hati melakukan tradisi mudik pulang kampung untuk memohon maaf secara langsung kepada orang tua, saudara dan kerabat dekatnya.

Setiap tahun kita melakukan tradisi itu, karena rutin maka terasa hari suci itu menjadi sekedar kegiatan seremonial belaka, menjadi sekedar basa-basi untuk mengucapkan maaf tanpa adanya ketulusan. Bahkan yang lebih parah menganggap hari itu sebagai hari untuk berfoya-foya tanpa makna apapun.

Memohon dan memberi maaf dengan tulus sejatinya memiliki makna yang dalam, dengan saling memaafkan maka tidak ada lagi rasa dendam, sakit hati, marah dan sebagainya, yang ada adalah rasa suka cita penuh kebahagiaan dalam ketulusan Cinta Kasih, tidak ada lagi batas pemisah semua menyatu sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. 

Saling memaafkan dapat dilakukan kapan saja, Idul Fitri adalah hari untuk mengingatkan kita setiap tahun agar jangan lupa untuk melakukan kebaikan itu kapanpun. Saling memaafkan yang tulus berlandaskan cinta kasih dibuktikan dengan perbuatan kita sehari-hari dengan tidak melakukan kesalahan yang lampau pada hari ini dan seterusnya. Menerima dan merangkul setulus hati orang-orang yang telah bersalah kepada kita. 

Semua itu memang tidak mudah, itulah sebabnya Idul Fitri diperingati setiap tahun untuk mengingatkan kita terus menerus agar melakukan kebaikan itu. 

SALING MEMAAFKAN ADALAH KEIKHLASAN MENERIMA DAN MENGAKUI KEKURANGAN DAN KESALAHAN DIRI MASING-MASING DALAM KETULUSAN CINTA KASIH. KEIKHLASAN ITU MEMBAWA RASA SYUKUR KEPADA SANG PENCIPTA YANG TELAH MEMBERI KARUNIA KEBAHAGIAAN KEPADA KITA SEMUA.

Jumat, 09 Juli 2010

KISAH ATLET YANG TETAP BAHAGIA WALAU KALAH

Di suatu perlombaan atletik lari cepat tingkat Internasional, ada 10 atlet yang mengikuti lomba. Setelah perlombaan berakhir ada 1 peserta yang menempati urutan ke 7 mencapai garis finish justru tetap tersenyum menyalami seluruh peserta, official dan melambaikan tangan kepada seluruh penonton. Sementara 6 peserta lainnya terduduk lesu menyesali kekalahannya.

Seorang wartawan tertarik dengan atlet yang berada di rangking 7 tersebut. Dia mewawancarai sang atlet : “Mengapa anda terlihat tetap gembira padahal medali perunggu saja tidak dapat anda raih ?” Sang atlet menjawab sambil tersenyum : “1 hal saya memang tidak dapat medali tetapi dalam banyak hal saya bahagia karena saya berlari lebih cepat dari 3 orang atlet lainnya. Saya bahagia karena tidak banyak orang yang dikaruniai kecepatan berlari seperti saya hingga saya dapat mengikuti perlombaan Internasional ini, bahkan andapun tidak dapat berlari seperti saya. Saya bahagia karena talenta ini saya dapat mengunjungi dan melihat negeri lain yang dapat menambah wawasan dan pengalaman saya. Dan yang paling membahagiakan adalah ketika sampai garis finish saya dalam keadaan sehat walafiat, tidak mengalami keseleo atau cedera yang lainnya. Jadi mengapa saya harus bersedih karena 1 hal sementara banyak hal lainnya yang membahagiakan saya ?”

……. Sang wartawan terdiam sejenak lalu naluri untuk bertanya kembali bergolak : “Apakah anda tidak membohongi diri sendiri ? dan pernyataan anda hanya upaya untuk menutupi kekalahan anda ?” Sang atlet tertawa lalu tersenyum sambil berkata lembut : “Saya dapat memahami dan memaklumi pikiran anda. Tapi coba anda putar ulang rekaman pernyataan saya tadi dan simak dengan baik. Semua yang saya ungkapkan adalah fakta adanya dan tidak terbantahkan. Apakah anda menyangkal bahwa saya mengalahkan 3 orang atlet ? Apakah anda menyangkal bahwa banyak orang yang tidak dapat berlari secepat saya ? Apakah anda tidak bahagia jika dapat bepergian ke luar negeri dengan gratis ? Apakah anda tidak bersyukur jika anda dalam keadaan sehat walafiat ? Justru kalau saya bersedih saya telah membohongi diri saya sendiri.

Saya bahagia, saya dapat melihat semua fakta secara utuh. Sedangkan anda melihat fakta sepotong-sepotong dan seringkali yang dilihat adalah fakta negatif. Saya bahagia kalau anda dapat melihat seluruh fakta itu dan ikut berbahagia dengan saya. Apakah salah jika saya bahagia dan andapun bahagia ?”


Rabu, 07 Juli 2010

KESUKSESAN ATAU KEBAHAGIAAN ?

Semua orang menginginkan kesuksesan dan kebahagiaan, tapi mana yang lebih anda pilih dan sukai? Banyak yang lebih memilih kesuksesan. Kesuksesan menurut ukuran umum misalnya menjadi kaya raya, menjadi pimpinan perusahaan, mendapat jabatan di pemerintahan dan sebagainya adalah hal yang baik dan membahagiakan tapi apakah kebahagiaan itu seterusnya atau hanya sesaat ?

Ketika kita diangkat menjadi direktur, bupati atau ketika kaya mendadak itulah kesuksesan. Tapi setelah itu bisa jadi akan merupakan penderitaan. Si Direktur dan Bupati akan semakin sibuk, beban pekerjaan semakin berat, stress bertambah dan keluarga bisa terabaikan. Si kaya semakin lupa diri dengan kekayaannya, dia membeli apa saja yang dia mau, melakukan apa saja yang dia suka sampai pada suatu titik dia tidak tahu apa yang dilakukan, apa yang dia cari. Walau semuanya ada tapi tetap ada yang kurang, kebahagiaan yang kurang lengkap bahkan ada yang merasa tidak bahagia. 

Jadi kesuksesan itu memang membahagiakan tapi mungkin hanya sesaat. Kesuksesan adalah bagian kecil dari kebahagiaan. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita lebih banyak merasakan kebahagiaan. 

Kebahagiaan dirasakan tidak hanya ketika sukses, yang sering diabaikan adalah disaat-saat kelihatannya sepele tapi sesungguhnya membahagiakan seperti melihat matahari pagi, berkumpul bercengkerama dengan keluarga, bekerja dengan sehat, melihat pemandangan alam, mendengar alunan musik, merasakan nikmatnya kopi dan makanan. Salah satu kebahagiaan terbesar adalah ketika sehat walafiat berkumpul bersama hadai taulan dan membagikan kebahagiaan itu kepada semua orang.

Untuk bahagia kita tidak harus sukses tapi kita akan sukses jika merasa bahagia.

Selamat berbahagia.