Tampilkan postingan dengan label rejeki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rejeki. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012

BENARKAH UANG BUKAN SEGALANYA DALAM SIKAP DAN PERBUATAN KITA ?


Untuk hidup layak di jaman modern ini memang tak dapat disangkal kita memerlukan uang sebagai alat tukar yang sah dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Apakah itu berarti kita menomorsatukan uang di atas segalanya ? 

Mungkin mulut kita langsung menyanggah, “Pasti tidak!”. Sudah sesuaikah antara sanggahan di mulut itu dengan sikap dan perbuatan kita ? Seperti tak ada kekhawatiran berlebihan manakala Tuhan mengambil atau menurunkan sedikit rejeki kita ? Tidak selalu mengkhawatirkan segala sesuatu yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan uang ? 

Sekedar renungan akhir pekan tanpa biaya dan kekhawatiran berlebihan terhadap uang.

Senin, 17 Oktober 2011

BERHEMAT ADALAH WUJUD RASA SYUKUR KETIKA MENDAPATKAN REJEKI

Manakala mendapatkan rejeki berupa uang, kita tentu sangat bersyukur kepada Maha Kuasa. Rasa syukur ini tidak cukup hanya diucapkan. Kita wujudkan rasa syukur ini dengan memanfaatkan rejeki tersebut sebaik mungkin, bukan lalu menghamburkannya untuk bersenang-senang, foya-foya atau hal-hal yang kurang perlu. 

Berhemat ketika mendapatkan rejeki adalah wujud nyata rasa syukur kita kepada Sang Pemilik Rejeki.

Jumat, 03 Juni 2011

MEMBUANG MAKANAN SAMA SAJA TIDAK MENGHARGAI DAN MENSYUKURI KARUNIA TUHAN

Di restoran kelas menengah atas umumnya orang sangat jarang menghabiskan makanannya, mungkin karena gengsi atau mereka memang tak pernah lapar. Di rumah kita juga kadang membuang makanan yang tidak termakan.

Kita tahu banyak orang lain yang kekurangan makan. Dan lagi makanan itu rejeki dan karunia Tuhan jika kita membuangnya sama saja tidak menghargaiNYA.

Selasa, 31 Mei 2011

MENGELUH ATAS MAKANAN KITA SAMA DENGAN PROTES ATAS REJEKI TUHAN

Ketika makan, keluhan yang sering terdengar, “Ah bosan ! Hampir tiap hari makan itu terus !” Tanpa sadar kita protes rejeki dari Tuhan. Kalaupun bosan kita bisa bilang, “Terima kasih atas makanan ini. Kalau bisa mama / istriku sayang atau pembantuku yang baik, makanan ini sesekali bervariasi tapi tetap berhemat.”

Nikmati dan syukuri meski hanya sepotong tempe atau sebungkus mie instan. Ingatlah banyak yang kelaparan.

Rabu, 06 April 2011

IKHLAS BUKAN UNTUK DIUCAPKAN

Alasan yang paling sering terdengar, “Ikhlas lebih mudah diucapkan”. Tentu selama kita lancar berbicara, semua mudah diucapkan. Sesungguhnya ikhlas yang tersulit adalah menerima kenyataan sangat pahit atau menyakitkan. Tapi kalau menerima rejeki, sangat mudah untuk ikhlas.

Ikhlas bukanlah untuk diucapkan, ikhlas harus dirasakan di hati lalu terwujud dalam sikap dan tindakan karena iman dan cinta kita kepada Tuhan.

Rabu, 12 Januari 2011

BERSEDEKAH BUKAN UNTUK "MERAYU" TUHAN

Memberikan bantuan atau sedekah tentu sangat baik tapi bersedekah dengan tujuan “merayu” Tuhan agar kita diberikan lebih banyak rejeki, rasanya kurang tepat. Tuhan pasti tahu niat dan tujuan kita bersedekah. Bersedekahlah semata-mata untuk kebaikan orang banyak, kalaupun kita mengharapkan imbalan atas perbuatan baik itu, mungkin bukan di dunia ini.

Selasa, 05 Oktober 2010

JIKA BERSYUKUR MAKA WUJUDKAN DALAM PERBUATAN

Jika bersyukur dengan kesehatan kita maka jagalah kesehatan dengan berolahraga dan tidak mengkonsumsi apapun yang dapat merugikan kesehatan, jiwa dan pikiran.

Jika bersyukur dengan rejeki kita maka pergunakan rejeki itu dengan bijak dan tidak menghamburkannya untuk hal yang tidak perlu.

Jika bersyukur dengan hidup kita maka isilah dengan kebaikan dan berbagai hal yang berguna bagi orang banyak.