Tampilkan postingan dengan label dendam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dendam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

MENGUBAH KEBIASAAN DALAM MENGHADAPI KEKECEWAAN


Kecewa dengan cuaca yang panas, kita mengeluh,”Brengsek ! Panas sekali !”. Saat hujan turun, tanpa sadar kita mengumpat,”Sialan ! Hujan !”. Mau menelpon tidak ada sinyal, kita menghardik,”Setan ! Nggak ada sinyal !”. Dan banyak lagi contoh lainnya yang kita alami sehari-hari. Semua itu adalah pola pikir dan sikap sebagai respon dari kekecewaan yang terbentuk selama bertahun-tahun sehingga menjadi kebiasaan mendarah-daging yang kemudian bisa saja diteladani oleh anak cucu kita. 

Pertanyaannya, apa ruginya dengan kebiasaan itu ?. Kalau kekecewaan ringan seperti di atas saja kita menghadapinya dengan keluhan, umpatan dan hardikan, lalu bagaimana kita mengatasi kekecewaan yang berat ? Kemungkinan besar kita akan merespon dengan amarah yang meluap dan bisa tak terkendali. Amarah ini pasti merugikan diri kita sendiri. Amarah bisa membuat kita melakukan perbuatan konyol yang tidak rasional. Kemarahan yang terus berkobar bisa menjadi benci dan dendam yang tentu saja membuat hidup kita tidak bahagia

Jadi ubahlah pola pikir dan sikap kita ketika menghadapi kekecewaan ringan agar menjadi kebiasaan yang positif. Manakala udara panas, bersyukurlah, “Untung panas, saya jadi bebas bepergian”. Waktu hujan turun, berterima-kasihlah kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan atas air melimpah yang dicurahkan”. Pada saat tak ada sinyal, tersenyumlah,”Wah nggak ada sinyal, nggak bisa telpon tapi bisa menghemat pulsa”. Jangan biarkan kekecewaan merenggut kebahagiaan kita.

Senin, 14 November 2011

MENGATASI RASA KECEWA

Kalau mau jujur, bisa dikatakan setiap hari kita merasa kecewa. Selama kita hidup, kita tak bisa menghindari rasa kecewa. Dari kekecewaan ringan sampai yang berat. Cukup banyak orang yang gagal atau kurang mampu mengatasi dan mengelola kekecewaan dengan baik. Lalu menimbulkan beragam ekspresi dari murung, mengeluh, mengumbar sumpah serapah, caci maki sampai rasa benci dan dendam

Kita memang tak bisa menghindar dari rasa kecewa tapi kita seharusnya bisa mengatasi bahkan mengelola rasa kecewa. Selain kita berusaha mengatasi penyebab dari kekecewaan, kita juga harus mengubah pola pikir dan sikap. Dulu mungkin kita banyak mengeluh dan mencaci maki. Sekarang cobalah berpikir, adakah gunanya kita mengeluh dan mencaci maki ? Bukankah sikap ini malah menambah emosi dan stress kita? Cobalah kita menahan diri dengan diam menenangkan diri. Semestinya kita akan merasa lebih tenang dan lebih baik tanpa emosi. 

Cobalah atasi kekecewaan dengan mengubah pola pikir dan sikap kita.

Senin, 24 Oktober 2011

KEBAIKAN TIDAK SELALU BERBALAS KEBAIKAN, TAK PERLU SAKIT HATI

Kita mungkin pernah berbuat baik kepada seseorang, entah karena hubungan asmara atau karena memang ingin melakukan kebaikan atas dasar cinta kasih kepada sesama manusia. Namun kadang kebaikan kita malah direspon negatif. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan ketidakbaikan. Cinta dibalas dengan pengkhianatan perselingkuhan dan lain sebagainya. 

Sungguh menyakitkan memang tapi itulah kenyataan hidup kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Andai kita sakit hati, tidak bisa memaafkan bahkan membalas kembali dengan dendam dan kebencian maka hanya akan merusak diri kita sendiri. Kalau kita melakukan kebaikan itu atas dasar cinta kasih, kejadian tersebut adalah ujian berat cinta kasih kita. Jika benar kita memiliki cinta kasih, tentu juga memiliki maaf. 

Maafkan, lupakan dan ambil hikmah atas peristiwa tersebut untuk tetap penuh cinta kasih terhadap sesama manusia serta hidup lebih nyaman dan tenteram tanpa rasa sakit hati.

Sabtu, 10 September 2011

BASA-BASIKAH MAAF LAHIR DAN BATIN YANG TERUCAP ?

Adakah ketika kita mengucapkan kalimat tersebut, saat itu juga kita berusaha memperbaiki diri
Untuk apa kita memohon maaf jika masih dendam, iri dan segala macam emosi yang merusak kehidupan
Sulitkah atau tidak mau berubah lebih baik ? 

Sekedar renungan akhir pekan lahir dan batin.

Kamis, 08 September 2011

MAAF ITU MEMBAHAGIAKAN

Mengapa kita harus saling bermaafan

Dengan maaf kita bisa melepaskan rasa sakit hati, dendam, rasa bersalah dan semua emosi yang membebani pikiran dan hati. Kita menjadi plong, tak ada beban, nyaman, tenang dan bahagia

Maaf itu membahagiakan.

Sabtu, 02 Juli 2011

JIKA DENDAM, MENGAPA KITA BERAT UNTUK MEMAAFKAN ?

Memaafkan adalah obat paling manjur dari rasa dendam. Namun mengapa kita berat untuk memaafkan ? Mengapa seringkali kita hanya memaafkan di bibir saja, bukan di hati ?

Sekedar renungan akhir pekan tanpa rasa dendam.

Jumat, 01 Juli 2011

"DENDAM" TERBAIK

“Dendam” terbaik adalah “dendam” untuk membalas kebaikan Tuhan dan orang lain kepada kita dengan perbuatan yang lebih baik dan semakin lebih baik lagi sekarang dan seterusnya.

Kamis, 30 Juni 2011

MEMAAFKAN DAN MENGIKHLASKAN UNTUK MELENYAPKAN DENDAM

Jika kita merasa dendam kepada seseorang dan pasti tersiksa dengan perasaan itu, tidak ada solusi terbaik selain melupakan masalah kita dan memaafkan orang tersebut serta diri kita sendiri. Sanggahan kita pasti, “Itu tidak mudah”. Sebenarnya bukan tidak mudah tapi belum rela. Relakan dan ikhlaskanlah kepada Maha Kuasa agar kita tenang dan kembali bahagia.

Selasa, 28 Juni 2011

BALAS DENDAM HANYA AKAN MENIMBULKAN MASALAH TAK BERKESUDAHAN

Dendam adalah level tertinggi dari rasa kecewa. Emosi negatif dahsyat bagaikan gunung berapi yang akan meletus. Kita sering berpikir harus melepaskan emosi tersebut dengan membalas dendam agar tidak lagi merasa dendam. Kenyataannya setelah membalas dendam akan timbul masalah baru yang bahkan mungkin lebih berat.

Balas dendam hanya akan menimbulkan masalah tak berkesudahan.

Senin, 27 Juni 2011

DENDAM ADALAH "MONSTER" YANG MERENGGUT KEBAHAGIAAN KITA

Kita semua pasti pernah dikecewakan orang lain, mungkin dikhianati, melakukan kesalahan fatal bagi kita dan sebagainya. Kekecewaan yang memuncak berkembang menjadi kebencian. Ketika kebencian ini begitu besar dan tak termaafkan, jadilah dendam. Kala dendam bersemayam dalam diri kita, muncullah “monster” yang merenggut kebahagiaan kita. Enyahkan “monster” itu dari pikiran dan hati kita !