Tampilkan postingan dengan label memberi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memberi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2011

MENYUMBANG UNTUK “MERAYU” TUHAN ?

Kita pasti menyadari dalam kehidupan selalu ada suka dan ada duka. Ada yang beruntung dan ada yang bernasib malang. Ada yang mampu dan ada yang kebetulan kurang mampu. Kadang kita mengalami kehidupan yang cukup baik, bahkan mungkin sangat baik. Kadang pula kita mengalami saat-saat buruk seperti mengalami musibah, bencana alam atau bangkrut secara ekonomi.

Ketika kita sedang mengalami duka, kemalangan atau kurang mampu secara ekonomi, kita pasti sangat mengharapkan bantuan atau pertolongan orang lain. Pertolongan yang sedikit atau banyak bisa mengangkat kita dari keterpurukan.

Kalau kita ingin dibantu ketika susah, demikian pula dengan orang lain. Mereka yang mengalami kesulitan hidup pasti membutuhkan pertolongan. Kita yang kebetulan lebih beruntung kehidupannya sudah selayaknya membantu mereka. Kita membantu karena kita juga ingin dibantu manakala mengalami nasib seperti mereka.

Bantuan yang kita berikan bisa berupa materi atau non materi. Bantuan materi biasanya berupa sumbangan uang atau barang. Bantuan non materi bisa berupa pikiran dan tenaga.

Apapun bantuan yang diberikan hendaknya tulus ikhlas bagi kebaikan orang yang dibantu dan masyarakat banyak. Bukan untuk kebaikan kita sendiri.

Kadang kala kita memberikan sumbangan atau bantuan dengan harapan Tuhan akan melimpahkan banyak rejeki kepada kita. Mungkin tidak salah, katakanlah kita “merayu” Tuhan dengan melakukan kebaikan seperti itu. Tapi rasanya terlalu naif jika kita berpikir bisa “membujuk” Sang Maha Adil dengan berbagai sumbangan bagi kepentingan kita sendiri. 

Kalaupun rejeki kita semakin lancar setelah memberikan banyak amal, itu bukan karena “rayuan” kita berhasil. Kebetulan pada saat itu Tuhan memang menghendaki untuk meminjamkan hartaNya kepada kita. Harta yang kita dapat itu bukanlah imbalan dari sumbangan dan bantuan kita. 

Jikalau kita mengharapkan imbalan dari Maha Kuasa, mungkin bukan berupa rejeki di dunia fana ini. Selayaknya kita tidak mengharapkan imbalan apapun atas ketulusan dan keikhlasan bantuan kita. Kecuali mengharapkan kebaikan bagi banyak orang.

Rabu, 24 Agustus 2011

MEMBERIKAN SUMBANGAN DENGAN TIDAK MENYUSAHKAN ORANG LAIN




Kalau kita tidak bisa memberikan bantuan atau sedekah, berilah sumbangan dengan berperilaku yang tidak merugikan orang lain.

JIKA TAK BISA MEMBANTU ATAU MENOLONG ORANG, JANGANLAH MENYUSAHKAN ORANG LAIN.

Selasa, 23 Agustus 2011

BANTUAN ATAU SUMBANGAN SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Memberikan sumbangan, bantuan atau sedekah dalam bentuk materi atau non materi secara tulus ikhlas serta tepat guna dan sasaran adalah wujud nyata cinta kasih kita kepada sesama manusia.

Senin, 22 Agustus 2011

SUMBANGAN TEPAT GUNA DAN SASARAN

Ada yang berpendapat, memberikan sumbangan, bantuan atau sedekah dengan niat baik adalah mulia meskipun kemudian pemberian kita disalahgunakan atau salah sasaran oleh si penerima. Pendapat seperti ini lebih baik daripada tidak pernah memberikan bantuan sama sekali. Akankah jauh lebih baik lagi jika pemberian kita yang tulus itu tepat guna dan sasaran ?

Sabtu, 15 Januari 2011

MENGAPA TIDAK PERCAYA DENGAN KEIKHLASAN TANPA PAMRIH ?

Pada masa kini ketika kita memberikan bantuan atau tenaga dan pikiran semata-mata untuk kebaikan, tanpa pamrih, mengapa banyak orang tidak percaya bahkan sinis dan curiga ? Mengapa banyak orang tidak percaya dengan ketulusan dan keikhlasan ? Apakah semua harus berorientasi kepada kebendaan ? Kasarkah jika ada pertanyaan, apakah kita telah menjadi hamba dari uang dan harta ?

Sekedar renungan akhir pekan.

Rabu, 12 Januari 2011

BERSEDEKAH BUKAN UNTUK "MERAYU" TUHAN

Memberikan bantuan atau sedekah tentu sangat baik tapi bersedekah dengan tujuan “merayu” Tuhan agar kita diberikan lebih banyak rejeki, rasanya kurang tepat. Tuhan pasti tahu niat dan tujuan kita bersedekah. Bersedekahlah semata-mata untuk kebaikan orang banyak, kalaupun kita mengharapkan imbalan atas perbuatan baik itu, mungkin bukan di dunia ini.

Senin, 10 Januari 2011

KEBAIKAN TIDAK DIUKUR DARI MATERI

Di jaman yang serba materialistik ini kita sering menilai seseorang semata-mata dari materi. Jika ada seseorang sering memberikan uang atau barang berharga kepada kita dinilai sebagai orang baik. Semudah itu menjadi orang baik kalau kita cukup memiliki harta, dengan membeli kebaikan ? Bagaimana kalau kita tidak cukup berharta ?

Sudah semestinya kebaikan tidak diukur dari materi yang diberikan.

Senin, 27 Desember 2010

HADIAH SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH

Merayakan natal dan tahun baru biasanya akan lebih istimewa dengan adanya pemberian hadiah atau tukar kado di antara orang-orang terdekat yang dikasihi, keluarga, sahabat dan mungkin kekasih. Kebiasaan baik ini tentu tidak diukur dari harga hadiah tapi sebagai wujud rasa terima kasih, perhatian dan terutama CINTA KASIH.

Jumat, 03 September 2010

MEMBERI DALAM KEKURANGAN ITU LUAR BIASA

MEMBERI KARENA BERKELEBIHAN ADALAH BIASA, MEMBERI DALAM KEKURANGAN ITULAH YANG LUAR BIASA.

Rabu, 01 September 2010

LEBIH BIJAK MEMBERIKAN BANTUAN

Tentu menjadi hak kita sepenuhnya memberi bantuan kepada siapapun yang kita mau, tapi bukankah seorang anak kecilpun melakukannya? Sebagai orang dewasa kita sepantasnya lebih bijak dalam memberikan bantuan dengan mempertimbangkan akibat dan manfaat secara keseluruhan bagi yang dibantu, kita sendiri dan terutama kualitas kehidupan orang banyak.

Selasa, 31 Agustus 2010

MENJERUMUSKAN KE JURANG KEMALASAN

Memberi sedikit uang secara ikhlas kepada orang lain tentu tidak salah, namun sadarkah bahwa memberi sedikit uang kepada pengemis, kita telah MENJERUMUSKANNYA KE JURANG KEMALASAN YANG DALAM. Berilah bantuan kepada orang yang telah mau berusaha keras bekerja dengan jujur tapi belum beruntung.