- Lebih memilih menggerutu dibelakang
(ngedumel) daripada membicarakan persoalan secara langsung kepada orang
yang bersangkutan karena takut tersinggung, rikuh dan sebagainya.
- Lebih enak ngomong tembak langsung tanpa
tedeng aling-aling.
- Lebih baik bicara langsung secara sopan,
tenang dan memilih waktu yang tepat.
KEBAHAGIAAN AKAN LEBIH LENGKAP DENGAN BERBAGI KEBAHAGIAAN KEPADA SEMUA ORANG ... MARI BERBAGI !
Sabtu, 08 Desember 2012
LEBIH BAIK MANA “NGEDUMEL”, TEMBAK LANGSUNG ATAU BICARA SOPAN ?
Rabu, 05 Desember 2012
“NGEDUMEL” TAK AKAN MENYELESAIKAN MASALAH
Jumat, 12 Agustus 2011
SALING MEMAAFKAN PENYELESAIAN TERBAIK KESALAHPAHAMAN
Si A seorang wanita berpenampilan biasa saja yang suka berdandan akan menanggapinya dengan senang hati dan menganggapnya sebagai pujian lalu merespon dengan tingkah laku yang lebih bersahabat.
Si B berpenampilan memang cantik dan sudah sering mendapat pujian seperti itu, akan menanggapi dan merespon biasa saja karena menganggapnya sebagai rayuan banyak pria kepadanya.
Wanita ketiga si C berpenampilan kurang menarik, akan merasa tidak senang, bahkan dianggapnya sebagai hinaan atau olok-olok. Dia marah dan pergi.
Ilustrasi itu hanya melihat sedikit faktor dari sangat banyak faktor yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang. Faktor yang belum dilihat seperti kedekatan hubungan antara si pria dan wanita, suasana lingkungan, latar belakang kehidupan, topik pembicaraan, cara berbicara dan banyak lagi.
Semua faktor tersebut yang membuat suatu aksi menimbulkan banyak reaksi yang berlainan. Sepatah kalimat pujian bisa dianggap hinaan, demikian juga sebaliknya suatu hinaan bisa ditanggapi sebagai sebuah dorongan. Sebuah niat baik bisa ditanggapi tidak baik dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Ketika suatu aksi menimbulkan reaksi yang tidak sesuai harapan, terjadilah kesalahpahaman yang disebabkan oleh faktor-faktor yang diuraikan di atas. Kita sulit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Akibatnya sering terjadi salah paham. Sesuatu yang kita sampaikan ditanggapi berbeda dari yang diharapkan. Kesalahpahaman ini tentu terjadi secara tidak sengaja dan banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalahpahaman jelas menimbulkan masalah, dari ringan sampai berat. Masalahnya adalah satu pihak merasa pihak lain melakukan kesalahan terhadap dirinya dan salah satu atau kedua belah pihak belum tahu kalau hal itu terjadi karena kesalahpahaman. Salah satu pihak tanpa sadar dan tanpa sengaja melakukan kesalahan.
Kesalahpahaman ini justru paling banyak terjadi dalam hubungan keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Kedekatan hubungan, intensitas bertemu dan berinteraksi menyebabkan komunikasi kurang terkontrol. Merasa masih satu keluarga, masing-masing anggotanya kurang peduli dengan tata cara dan tata krama berkomunikasi.
Sebagai contoh kecil. Seorang suami sebagai kepala keluarga merasa wajar dan berhak membentak dan menghardik istri dan anaknya. Bentakan dan hardikan ini sesungguhnya bertujuan dan bermaksud baik, mungkin bagi si suami untuk kedisiplinan. Tanpa disadari sang ayah, “maksud baik ini” telah melukai perasaan buah hatinya sendiri. Lebih parah lagi istri dan anaknya takut atau segan atau tidak mau mengatakan terus terang perasaannya yang terluka. Kalaupun mau mengatakannya, sang ayah tidak mau mendengarkan atau mendengar tapi tak peduli. Bisa dibayangkan jika kesalahpahaman antara “maksud baik ayah” dengan perasaan terluka istri dan anak ini berlangsung bertahun-tahun.
Kalau saja sang ayah tahu tata cara dan tata krama berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Lalu istri dan anak dapat melakukan komunikasi dengan baik, mengungkapkan bahwa mereka merasa terluka dan tidak nyaman atas perlakuan ayahnya. Kesalahpahaman dalam hubungan keluarga bisa dikurangi seminimal mungkin.
Salah satu tata cara dan tata krama berkomunikasi yang terpenting adalah memohon dan memberi maaf secara tulus. Kesalahpahaman adalah kesalahan yang terjadi tanpa sengaja dan tanpa disadari. Kesalahan seperti ini sangat patut untuk saling memaafkan.
Kamis, 17 Maret 2011
BERKATA SOPAN DAN HALUS TANPA BERBOHONG
Senin, 01 November 2010
ORANG YANG DIANGGAP PANDAI
Kita sering beranggapan orang yang berbicara kepada khalayak umum dengan bahasa intelek, bercampur dengan bahasa asing dan kalimat yang sulit dipahami adalah orang pandai dan cerdas. Bagi dirinya sendiri dan lingkungan tertentu mungkin dia memang pandai dan cerdas tapi bagi kita orang awam dia orang yang “dianggap pandai” namun kurang bijaksana dalam berkomunikasi dengan khalayak umum.
Kamis, 26 Agustus 2010
MEMBICARAKAN KEKURANGAN ORANG LAIN
Selasa, 24 Agustus 2010
DIAM MENDENGARKAN
Ketika kita sedang berbicara mencurahkan isi hati kepada pasangan atau sahabat, seringkali yang dibutuhkan hanyalah DIAM UNTUK MENDENGARKAN kita, bukan jawaban apalagi reaksi berlebihan.
Jadilah pendengar yang sabar dan setia bagi pasangan dan sahabat kita serta orang lain.
Sabtu, 07 Agustus 2010
KOMUNIKASI ANTARA AYAH DAN ANAK
Jumat, 06 Agustus 2010
SENYUM MEMILIKI BANYAK MAKNA YANG DALAM
Senyum tulus adalah bentuk komunikasi yang sangat sederhana namun memiliki banyak makna yang dalam. Senyum bisa bermakna rasa syukur, keikhlasan, cinta, kedamaian, ketulusan dan bisa menebarkan kebahagiaan. Tersenyumlah penuh ketulusan.
Kamis, 05 Agustus 2010
KOMUNIKASI UNTUK KEBAHAGIAAN KELUARGA
Kebahagiaan keluarga harus dibina dengan kelancaran dan keterbukaan komunikasi 2 arah baik antara suami dan istri maupun orang tua dan anak. Jika komunikasi tersebut tidak terjalin dengan baik, bisa dipastikan salah 1 atau beberapa bahkan seluruh anggota keluarga akan merasakan ketidakbahagiaan.
Rabu, 04 Agustus 2010
BERKOMUNIKASI YANG MENJUNJUNG KEBENARAN DAN KEJUJURAN
Selasa, 03 Agustus 2010
PAHAMI DAN HATI-HATI DENGAN KOMUNIKASI
Senin, 02 Agustus 2010
TUHAN BERKOMUNIKASI SETIAP SAAT
Kita semua jelas orang biasa, bukan orang suci tapi sadarkah bahwa Tuhan berbicara dan berkomunikasi dengan kita setiap saat ? Berkomunikasi melalui peristiwa, kejadian, suara hati, teman, keluarga, lingkungan dan semua di sekeliling kita … Hanya dengan membuka hati, pikiran, mata, telinga dan perasaan lebih peka kita dapat memahaminya.

