Tampilkan postingan dengan label memaafkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memaafkan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Agustus 2012

MAAF ITU MEMBEBASKAN DAN MEMBAHAGIAKAN

maaf itu membebaskan dan membahagiakan
Maaf itu membebaskan dan membahagiakan

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke 67
dan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Sabtu, 29 Oktober 2011

MENGAPA MEMBIARKAN RASA SAKIT HATI MERUSAK KEBAHAGIAAN HIDUP KITA ?

Karena kita berinteraksi dengan banyak orang, termasuk yang kita cintai, sakit hati bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. 
Lalu mengapa membiarkan rasa sakit hati berkepanjangan yang akan merusak kebahagiaan hidup kita ? 
Mengapa kita tidak memaafkan, melupakan dan mengambil hikmah atas peristiwa tersebut ? 
Apakah kita mau rasa sakit hati menjadi luka hati  permanen yang tak tersembuhkan dan menimbulkan trauma batin yang selalu mengganggu pikiran dan jiwa kita sehingga hidup tak bahagia ? 

Sekedar renungan akhir pekan tanpa rasa sakit hati.

Selasa, 25 Oktober 2011

WAKTU BISA MENYEMBUHKAN RASA SAKIT HATI


Kita tidak bisa selalu mengendalikan orang lain. Sikap dan tindakan orang lain terhadap kita tak selalu sesuai kehendak kita. Bahkan orang-orang terdekat sekalipun seperti suami, istri, anak, orang tua dan saudara seringkali berbeda dengan kemauan kita. Kadang malah menyakitkan hati kita sampai timbul kemarahan dan pertengkaran. 

Masalah ini mudah diselesaikan kalau ada pihak yang mengalah dan lebih baik lagi ada yang berbesar hati memohon maaf. Bagaimana kalau masing-masing keras hati merasa benar dan tak mau mengalah ? Masalah dan sakit hati akan terus berkobar berkepanjangan menimbulkan kebencian. Puncaknya biasanya salah satu atau kedua pihak tak mau bertemu dan memisahkan diri. 

Tak bertemu selama beberapa waktu bisa menjadi salah satu solusi terbaik untuk menurunkan emosi dan introspeksi diri. Seiring berjalan waktu, perlahan sedikit demi sedikit kita dapat memaafkan orang lain dan diri kita sendiri lalu melupakan rasa sakit hati di masa lalu. Mulai berbaikan kembali dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Senin, 24 Oktober 2011

KEBAIKAN TIDAK SELALU BERBALAS KEBAIKAN, TAK PERLU SAKIT HATI

Kita mungkin pernah berbuat baik kepada seseorang, entah karena hubungan asmara atau karena memang ingin melakukan kebaikan atas dasar cinta kasih kepada sesama manusia. Namun kadang kebaikan kita malah direspon negatif. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan ketidakbaikan. Cinta dibalas dengan pengkhianatan perselingkuhan dan lain sebagainya. 

Sungguh menyakitkan memang tapi itulah kenyataan hidup kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Andai kita sakit hati, tidak bisa memaafkan bahkan membalas kembali dengan dendam dan kebencian maka hanya akan merusak diri kita sendiri. Kalau kita melakukan kebaikan itu atas dasar cinta kasih, kejadian tersebut adalah ujian berat cinta kasih kita. Jika benar kita memiliki cinta kasih, tentu juga memiliki maaf. 

Maafkan, lupakan dan ambil hikmah atas peristiwa tersebut untuk tetap penuh cinta kasih terhadap sesama manusia serta hidup lebih nyaman dan tenteram tanpa rasa sakit hati.

Sabtu, 10 September 2011

BASA-BASIKAH MAAF LAHIR DAN BATIN YANG TERUCAP ?

Adakah ketika kita mengucapkan kalimat tersebut, saat itu juga kita berusaha memperbaiki diri
Untuk apa kita memohon maaf jika masih dendam, iri dan segala macam emosi yang merusak kehidupan
Sulitkah atau tidak mau berubah lebih baik ? 

Sekedar renungan akhir pekan lahir dan batin.

Jumat, 09 September 2011

ADAKAH MAAF LAHIR ATAU MAAF BATIN ?



Minggu lalu kita seringkali mendengar atau membaca kalimat, “Maaf lahir dan batin”. Tak aneh memang karena kalimat tersebut selalu mengiringi perayaan Hari Raya Idul Fitri. Kalau saja misalnya seorang mengucapkan, mendengar, menuliskan dan membaca kalimat itu 100 kali maka di seluruh Indonesia ada lebih dari 20 milyar rangkaian kata itu terdengar dan terbaca. Seorang yang telah berusia 30 tahun bisa jadi telah akrab dengan 4 rangkaian kata itu di telinga dan bibirnya lebih dari 3000 kali selama hidupnya. Luar biasa bukan ?

Tapi tulisan ini bukan artikel matematika yang membahas hitung-menghitung. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas berapa kuantitas kalimat “maaf lahir dan batin” yang berseliweran di sekitar kita. Juga sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan atau mengkritisi suatu ritual dalam keyakinan beragama. Malah mungkin semakin menyegarkan kembali pemahaman kita tentang makna mendalam dari kata “maaf” yang barangkali disini tidak mengulasnya berdasarkan perspektif keagamaan.

Dalam tulisan yang sederhana dan ringkas ini akan dikemukakan sedikitnya ada 2 logika ganjil atau paling tidak menggelitik pikiran berkaitan dengan kalimat tersebut. Logika pertama, semakin sering kita ber “maaf lahir dan batin” semestinya kita semakin sedikit melakukan kesalahan dan semakin sedikit dendam kepada orang lain. Pada intinya kita semakin menjadi lebih baik, tenteram dan damai. Anehnya kenyataan sekarang yang kita lihat dan rasakan tidaklah demikian. Kita semakin banyak berbuat kesalahan bahkan kesalahan yang sama terus terjadi berulangkali seperti misalnya korupsi. Semakin banyak perselisihan dan kekacauan antar suku, agama, ras dan faham (SARAF). Bahkan juga keributan dalam 1 SARAF. Logika yang aneh tapi nyata bukan ? Itulah yang terjadi kini.

Logika kedua, selama ini kita selalu mendengar “maaf lahir dan batin”, anehnya di luar lebaran kita tidak pernah sekalipun mendengar atau menggunakan kata “maaf lahir” atau “maaf batin”. Logikanya kalau ada “maaf lahir dan batin” tentu ada “maaf lahir” atau “maaf batin”. Semestinya ketiga kalimat itu sering terdengar dan dipakai tapi kenyataannya mengapa hanya 4 rangkaian kata itu saja yang ada ?

Dalam bahasa sehari-hari diluar lebaran kita hanya menggunakan kata “maaf” saja. Mungkin diantara kita ada yang bisa menjelaskan berdasarkan keyakinan agama mengapa di saat Idul Fitri kita memakai kalimat “maaf lahir dan batin”. Pastinya bukan karena terjemahan dari bahasa Arab. Jelas ada alasan tertentu.

Meskipun demikian diluar alasan keagamaan, tulisan ini mencoba sedikit menelaah makna “maaf” yang sesungguhnya mendalam. Barangkali ada penambahan “lahir dan batin” setelah kata “maaf” sebagai penekanan makna yang dalam. Mengucapkan kata “maaf” tidak hanya di mulut yang merupakan wujud lahir tapi juga harus keluar dari hati sebagai wujud batin. Jadi “maaf lahir dan batin” adalah penekanan dari maaf yang terucap di mulut tapi berasal dari hati kita yang paling dalam.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kalau kita memohon maaf tanpa embel-embel “lahir dan batin”, artinya tidak berasal dari hati ? Tentu saja tidak. Hanya dalam konteks Idul Fitri sebagai Hari Raya yang istimewa perlu penekanan khusus dalam memaknai maaf. Rasanya aneh kalau diluar lebaran kita bilang, “Maaf lahir dan batin” kepada sahabat dan saudara kita. Rangkaian kata tersebut adalah keistimewaan Idul Fitri dari sebuah makna “maaf”.

Diluar konteks lebaran, kata “maaf” yang kita ucapkan di mulut seharusnya berasal dari hati terdalam sebagai bentuk penyesalan atas kesalahan kita dan berupaya tidak berbuat kesalahan yang sama di masa kini dan masa datang. 
  
Kembali kepada logika ganjil pertama, mencoba menduga penyebabnya. Mungkin saja karena “maaf lahir dan batin” terlalu sering disebut dan didengar, justru jadi kehilangan makna. Kalimat itu dianggap sebagai basa-basi dalam mengucapkan Selamat Idul Fitri. Menjadi rutinitas dalam perayaan lebaran setiap tahun tanpa makna.

Tapi sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud mempertanyakan kalimat “maaf lahir dan batin” dalam ritual sakral keyakinan beragama. Tulisan ini hanya bermaksud menyampaikan ada logika ganjil yang menggelitik pikiran semua orang yang memahami makna dari sebuah kata “M A A F”. Kata yang sederhana terdiri dari 4 huruf tapi sesungguhnya memiliki arti luar biasa dalam kehidupan.

Akhir kata tentu saja kami memohon maaf yang bukan basa-basi jika ada kalimat yang kurang baik dan mungkin sedikit membuat kita bingung atau apapun yang kurang berkenan. Kalau hal itu sampai terjadi pasti ada kesalahpahaman yang tidak disengaja karena tulisan ini semata-mata dibuat untuk tujuan kebaikan dan kebahagiaan kita semua.



   

Kamis, 08 September 2011

MAAF ITU MEMBAHAGIAKAN

Mengapa kita harus saling bermaafan

Dengan maaf kita bisa melepaskan rasa sakit hati, dendam, rasa bersalah dan semua emosi yang membebani pikiran dan hati. Kita menjadi plong, tak ada beban, nyaman, tenang dan bahagia

Maaf itu membahagiakan.

Rabu, 07 September 2011

MEMAAFKAN ITU LEBIH DARI SEKEDAR MELUPAKAN

Ada yang mengatakan memaafkan adalah melupakan. Ada benarnya walau kurang lengkap. 

Memaafkan adalah melupakan segala keburukan, semua rasa sakit hati dan rasa bersalah namun tetap mengingat segala hikmah kebaikan bagi perbaikan kehidupan di masa kini dan masa mendatang.

Selasa, 06 September 2011

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Kita baru saja saling bermaafan kepada orang lain. Tak sedikit ada diantara kita yang sulit bahkan merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena kekurangan atau kesalahannya di masa lalu. Secara umum mereka terbagi menjadi 2 perilaku yang bertolak belakang. Bisa menjadi sangat pasif, tak berani berinisiatif karena takut salah lagi. Dapat pula menjadi sangat aktif dan temperamental. Mencoba menutupi rasa bersalah. 

Sebelum memaafkan orang lain, mereka harus memaafkan diri sendiri dulu.

Senin, 05 September 2011

SELAMAT IDUL FITRI

Bukan basa-basi, kami jelas bukan manusia sempurna
Bukan pula basa-basi, kami pasti ada kesalahan yang tidak disengaja

Dengan kerendahan hati kami memohon maaf setulusnya
Dengan kerelaan hati kami berharap dapat membina hubungan lebih erat

Dengan keikhlasan hati kami menghaturkan Selamat Idul Fitri
Dengan penuh kebahagiaan kita sambut masa depan yang lebih baik

Jumat, 12 Agustus 2011

SALING MEMAAFKAN PENYELESAIAN TERBAIK KESALAHPAHAMAN

Sebaris kalimat yang kita ucapkan atau tuliskan, bisa ditanggapi dan direspon berbeda oleh setiap orang. Misalkan seorang pria mengucapkan, “Anda cantik” kepada 3 orang wanita di waktu dan tempat berlainan. Katakanlah ketiga wanita tersebut bernama A, B dan C.

Si A seorang wanita berpenampilan biasa saja yang suka berdandan akan menanggapinya dengan senang hati dan menganggapnya sebagai pujian lalu merespon dengan tingkah laku yang lebih bersahabat.

Si B berpenampilan memang cantik dan sudah sering mendapat pujian seperti itu, akan menanggapi dan merespon biasa saja karena menganggapnya sebagai rayuan banyak pria kepadanya.

Wanita ketiga si C berpenampilan kurang menarik, akan merasa tidak senang, bahkan dianggapnya sebagai hinaan atau olok-olok. Dia marah dan pergi.

Ilustrasi itu hanya melihat sedikit faktor dari sangat banyak faktor yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang. Faktor yang belum dilihat seperti kedekatan hubungan antara si pria dan wanita, suasana lingkungan, latar belakang kehidupan, topik pembicaraan, cara berbicara dan banyak lagi.

Semua faktor tersebut yang membuat suatu aksi menimbulkan banyak reaksi yang berlainan. Sepatah kalimat pujian bisa dianggap hinaan, demikian juga sebaliknya suatu hinaan bisa ditanggapi sebagai sebuah dorongan. Sebuah niat baik bisa ditanggapi tidak baik dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Ketika suatu aksi menimbulkan reaksi yang tidak sesuai harapan, terjadilah kesalahpahaman yang disebabkan oleh faktor-faktor yang diuraikan di atas. Kita sulit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Akibatnya sering terjadi salah paham. Sesuatu yang kita sampaikan ditanggapi berbeda dari yang diharapkan. Kesalahpahaman ini tentu terjadi secara tidak sengaja dan banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesalahpahaman jelas menimbulkan masalah, dari ringan sampai berat. Masalahnya adalah satu pihak merasa pihak lain melakukan kesalahan terhadap dirinya dan salah satu atau kedua belah pihak belum tahu kalau hal itu terjadi karena kesalahpahaman. Salah satu pihak tanpa sadar dan tanpa sengaja melakukan kesalahan.

Kesalahpahaman ini justru paling banyak terjadi dalam hubungan keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Kedekatan hubungan, intensitas bertemu dan berinteraksi menyebabkan komunikasi kurang terkontrol. Merasa masih satu keluarga, masing-masing anggotanya kurang peduli dengan tata cara dan tata krama berkomunikasi.

Sebagai contoh kecil. Seorang suami sebagai kepala keluarga merasa wajar dan berhak membentak dan menghardik istri dan anaknya. Bentakan dan hardikan ini sesungguhnya bertujuan dan bermaksud baik, mungkin bagi si suami untuk kedisiplinan. Tanpa disadari sang ayah, “maksud baik ini” telah melukai perasaan buah hatinya sendiri. Lebih parah lagi istri dan anaknya takut atau segan atau tidak mau mengatakan terus terang perasaannya yang terluka. Kalaupun mau mengatakannya, sang ayah tidak mau mendengarkan atau mendengar tapi tak peduli. Bisa dibayangkan jika kesalahpahaman antara “maksud baik ayah” dengan perasaan terluka istri dan anak ini berlangsung bertahun-tahun.

Kalau saja sang ayah tahu tata cara dan tata krama berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Lalu istri dan anak dapat melakukan komunikasi dengan baik, mengungkapkan bahwa mereka merasa terluka dan tidak nyaman atas perlakuan ayahnya. Kesalahpahaman dalam hubungan keluarga bisa dikurangi seminimal mungkin.

Salah satu tata cara dan tata krama berkomunikasi yang terpenting adalah memohon dan memberi maaf secara tulus. Kesalahpahaman adalah kesalahan yang terjadi tanpa sengaja dan tanpa disadari. Kesalahan seperti ini sangat patut untuk saling memaafkan.

Rabu, 10 Agustus 2011

KESALAHPAHAMAN JUSTRU BANYAK TERJADI DALAM KELUARGA

Diakui atau tidak, kesalahpahaman justru banyak terjadi dalam keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Barangkali karena kedekatan hubungan, sering bertemu dan berinteraksi, lupa atau tidak peduli dengan waktu, tempat, emosi dan tata krama antar anggota keluarga. Untuk mengatasinya, keluargalah pihak pertama dan utama yang wajib saling memaafkan.

Selasa, 09 Agustus 2011

MEMOHON MAAF ADALAH CARA TERBAIK MENGATASI KESALAHPAHAMAN

Salah paham itu manusiawi bisa terjadi kapanpun, oleh siapapun. Tinggal bagaimana kita mengatasinya. Paling baik tentu saling memaafkan, menjelaskan secara terbuka pikiran masing-masing dengan itikad baik agar tercapai saling pengertian dan pemahaman. Walau sering tak semudah itu dalam kenyataan, paling tidak kita secara tulus memohon maaf kepada siapapun jika ada kesalahan yang tak disengaja termasuk kesalahpahaman.

Sabtu, 02 Juli 2011

JIKA DENDAM, MENGAPA KITA BERAT UNTUK MEMAAFKAN ?

Memaafkan adalah obat paling manjur dari rasa dendam. Namun mengapa kita berat untuk memaafkan ? Mengapa seringkali kita hanya memaafkan di bibir saja, bukan di hati ?

Sekedar renungan akhir pekan tanpa rasa dendam.

Kamis, 30 Juni 2011

MEMAAFKAN DAN MENGIKHLASKAN UNTUK MELENYAPKAN DENDAM

Jika kita merasa dendam kepada seseorang dan pasti tersiksa dengan perasaan itu, tidak ada solusi terbaik selain melupakan masalah kita dan memaafkan orang tersebut serta diri kita sendiri. Sanggahan kita pasti, “Itu tidak mudah”. Sebenarnya bukan tidak mudah tapi belum rela. Relakan dan ikhlaskanlah kepada Maha Kuasa agar kita tenang dan kembali bahagia.

Kamis, 24 Maret 2011

MEMAAFKAN KEBENCIAN

Ketika ada seseorang atau pihak yang membenci kita, sikap yang paling mudah dilakukan adalah kembali membalas membenci mereka. Inilah yang banyak terjadi kini. Kalau kebencian dibalas dengan kebencian, lalu apa bedanya kita dengan mereka ? Dan pasti akan menimbulkan konflik dan kekacauan.

Akan lebih baik jika kita memaafkan mereka dengan penuh pengertian agar kehidupan lebih tenang dan damai dalam indahnya perbedaan.

Jumat, 15 Oktober 2010

BUATLAH MEREKA BAHAGIA "DI ATAS SANA"

Barangkali kita pernah merasa menyesal telah melakukan banyak kesalahan, hanya memikirkan diri sendiri, merasa belum membahagiakan dan belum sempat memohon maaf kepada orang tua yang secara tiba-tiba dipanggil Maha Kuasa.
Tidak ada lain perbaikilah kesalahan kita sekarang juga menjadi lebih baik untuk membahagiakan orang tua kita yang kini berada di sisi Sang Pencipta. Buatlah mereka tersenyum bahagia “di atas sana”.

Jumat, 24 September 2010

IKHLASKAN KESALAHAN MASA LALU

Ada juga diantara kita yang selalu dihantui rasa bersalah, sulit untuk memaafkan dirinya sendiri. Ada pula yang takut melangkah maju karena pernah melakukan kesalahan.

Mereka terbelenggu oleh kesalahan di masa lalu sampai lupa atau enggan bertindak hari ini, seakan tidak lagi memiliki hari esok.

Ikhlaskanlah masa lalu dan bersyukurlah masih ada kesempatan hari ini untuk memperbaiki kesalahan.

Rabu, 08 September 2010

SALING MEMAAFKAN SECARA TULUS

Saling memaafkan tanpa didasari cinta kasih terhadap sesama hanyalah sekedar basa-basi di bibir saja, bukan ketulusan dari hati.

KETULUSAN SALING MEMAAFKAN MEMBAWA KEBAHAGIAAN

Hari Raya Idul Fitri adalah hari untuk saling memaafkan bagi saudara kita yang beragama Islam. Semua menghaturkan ucapan mohon maaf lahir dan batin, baik secara lisan atau melalui kartu ucapan dan sekarang yang trend melalui teknologi SMS. Bahkan di banyak negara terutama Indonesia yang sebagian besar berpenduduk Islam, mereka dengan senang hati melakukan tradisi mudik pulang kampung untuk memohon maaf secara langsung kepada orang tua, saudara dan kerabat dekatnya.

Setiap tahun kita melakukan tradisi itu, karena rutin maka terasa hari suci itu menjadi sekedar kegiatan seremonial belaka, menjadi sekedar basa-basi untuk mengucapkan maaf tanpa adanya ketulusan. Bahkan yang lebih parah menganggap hari itu sebagai hari untuk berfoya-foya tanpa makna apapun.

Memohon dan memberi maaf dengan tulus sejatinya memiliki makna yang dalam, dengan saling memaafkan maka tidak ada lagi rasa dendam, sakit hati, marah dan sebagainya, yang ada adalah rasa suka cita penuh kebahagiaan dalam ketulusan Cinta Kasih, tidak ada lagi batas pemisah semua menyatu sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. 

Saling memaafkan dapat dilakukan kapan saja, Idul Fitri adalah hari untuk mengingatkan kita setiap tahun agar jangan lupa untuk melakukan kebaikan itu kapanpun. Saling memaafkan yang tulus berlandaskan cinta kasih dibuktikan dengan perbuatan kita sehari-hari dengan tidak melakukan kesalahan yang lampau pada hari ini dan seterusnya. Menerima dan merangkul setulus hati orang-orang yang telah bersalah kepada kita. 

Semua itu memang tidak mudah, itulah sebabnya Idul Fitri diperingati setiap tahun untuk mengingatkan kita terus menerus agar melakukan kebaikan itu. 

SALING MEMAAFKAN ADALAH KEIKHLASAN MENERIMA DAN MENGAKUI KEKURANGAN DAN KESALAHAN DIRI MASING-MASING DALAM KETULUSAN CINTA KASIH. KEIKHLASAN ITU MEMBAWA RASA SYUKUR KEPADA SANG PENCIPTA YANG TELAH MEMBERI KARUNIA KEBAHAGIAAN KEPADA KITA SEMUA.