Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012

BENARKAH UANG BUKAN SEGALANYA DALAM SIKAP DAN PERBUATAN KITA ?


Untuk hidup layak di jaman modern ini memang tak dapat disangkal kita memerlukan uang sebagai alat tukar yang sah dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Apakah itu berarti kita menomorsatukan uang di atas segalanya

Mungkin mulut kita langsung menyanggah, “Pasti tidak!”. Sudah sesuaikah antara sanggahan di mulut itu dengan sikap dan perbuatan kita ? Seperti tak ada kekhawatiran berlebihan manakala Tuhan mengambil atau menurunkan sedikit rejeki kita ? Tidak selalu mengkhawatirkan segala sesuatu yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan uang ? 

Sekedar renungan akhir pekan tanpa biaya dan kekhawatiran berlebihan terhadap uang.

Jumat, 15 Juni 2012

SEGALANYA PERLU UANG TAPI UANG BUKAN SEGALANYA


uang bukan segalanya
Kebanyakan kekhawatiran kita baik langsung maupun tak langsung berkaitan dengan uang. Khawatir gagal, khawatir rugi, khawatir tak lulus, khawatir akan masa depan dan sebagainya. Sangat sedikit diantara kita yang khawatir dengan kesehatannya. Sebagai bukti masih banyak yang merokok di sembarang tempat, melahap segala macam makanan yang dianggapnya nikmat, narkoba, pergaulan sex bebas dan lain-lain. 

Seringkali kita menomorsatukan uang daripada kesehatan kita sendiri. Seperti jargon yang sering kita dengar, “Uang bukan segalanya tapi segala-galanya perlu uang”. Sebuah jargon yang nyaris benar kalau tidak mau dikatakan sedikit keliru. 

Mungkin bisa sedikit kita luruskan seperti ini, “segala-galanya” perlu uang tapi uang bukan segalanya kadang kita tak bisa membeli kesehatan dengan uang. Sebenarnya masih banyak lagi yang tak bisa terbeli dengan uang. Tapi dalam tulisan pendek ini dipersempit dan difokuskan pada masalah kesehatan.

Sabtu, 31 Maret 2012

MENGAPA TIDAK MENGAMBIL HIKMAH POSITIF DARI KENAIKAN HARGA ?


Saat ini tak dapat terhindarkan kita mengeluhkan kenaikan harga-harga tapi perlukah kita mengeluh sepanjang waktu yang membuat kita menjadi stress ? 

Apakah tidak lebih baik kita menerima kenyataan lalu mencari solusi terbaik? 

Mungkin sekarang saat yang tepat untuk berhemat
Barangkali juga sudah waktunya kita memikirkan secara serius mencari tambahan penghasilan yang halal ? 
Mungkin peristiwa ini membawa hikmah bagi perbaikan kualitas hidup kita di masa datang ? Mengapa tidak ? 

Sekedar renungan akhir pekan dalam keikhlasan menerima kenaikan harga.

Kamis, 29 Maret 2012

TAK ADA CARA LAIN SELAIN BERHEMAT

Ketika harga-harga barang dan jasa semakin tinggi sementara penghasilan kita tetap, tak ada cara lain selain berhemat. 

Kenapa harus hemat ?  

Ini alasan hidup hemat, klik disini.

Jumat, 21 Oktober 2011

SEBUAH TIPS DAN TRIK MENGURANGI KEBIASAAN BOROS ATAU PELIT


Ada yang mengatakan sifat pelit, boros atau hemat adalah karakter dari lahir yang sulit untuk diubah. Mungkin ada benarnya. Kalau hemat sudah semestinya tak perlu diubah. Pelit atau boros jika tak bisa diubah, tentu bisa disiasati untuk mengurangi kebiasaan boros atau pelitnya. Bagi si boros bisa saja jangan memegang banyak uang tunai atau kartu kredit / debet sendiri. Bagi yang pelit tentu kebalikan dari si boros, bawa selalu uang tunai dan kartu kredit / debet secukupnya.   

Selasa, 18 Oktober 2011

ANTARA BOROS, PELIT DAN HEMAT


Seorang yang boros tidak bisa membedakan antara hemat dan pelit. Dia beranggapan hidup hemat sama dengan pelit. 

Orang yang pelit pasti hemat tapi hidup hemat sama sekali bukan pelit. Pelit atau kikir artinya berusaha semaksimal mungkin tidak mengeluarkan uang dan biaya bahkan bagi keperluan penting sekalipun agar tidak mengurangi harta yang dimiliki. Sedangkan hidup hemat adalah berusaha menggunakan uang dan hartanya seefisien mungkin hanya untuk keperluan penting bagi tujuan yang lebih baik di masa datang. 

Orang pelit akan sangat menderita kala Tuhan mengambil hartanya. Orang boros akan selalu merasa kekurangan. Dan saat susah biasanya dia akan meminta bantuan dari si hemat. 

Hidup hemat adalah hidup penuh rasa syukur, menyadari harta hanya pinjaman dari Maha Kuasa bagi kebaikan kita sendiri dan kehidupan orang banyak.

Senin, 17 Oktober 2011

BERHEMAT ADALAH WUJUD RASA SYUKUR KETIKA MENDAPATKAN REJEKI

Manakala mendapatkan rejeki berupa uang, kita tentu sangat bersyukur kepada Maha Kuasa. Rasa syukur ini tidak cukup hanya diucapkan. Kita wujudkan rasa syukur ini dengan memanfaatkan rejeki tersebut sebaik mungkin, bukan lalu menghamburkannya untuk bersenang-senang, foya-foya atau hal-hal yang kurang perlu. 

Berhemat ketika mendapatkan rejeki adalah wujud nyata rasa syukur kita kepada Sang Pemilik Rejeki.

Sabtu, 27 Agustus 2011

SUMBANGAN CENDERUNG DISELEWENGKAN KARENA MENYANGKUT UANG DAN HARTA ?

Bantuan dan sumbangan menyangkut uang dan harta. Apakah ini yang membuatnya cenderung diselewengkan ? Barangkali seperti pengemis dadakan dan terorganisir, bisnis pribadi yang berkedok sebagai badan amal dan sebagainya ? Apakah ini juga yang menyebabkan orang menyumbang hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan orang banyak ?

Mungkin sebuah renungan yang cukup rumit di akhir pekan.

Selasa, 19 Juli 2011

CINTA KASIH ANTARA SAUDARA KANDUNG TAK TERNILAI OLEH UANG

Hubungan yang kurang erat dengan saudara kandung tentu bisa disebabkan oleh banyak faktor. Di jaman yang serba materialistik ini, bisa diduga faktor yang paling dominan adalah materi. Masalah warisan, iri 1 lebih kaya dari yang lain, minder karena banyak saudaranya lebih kaya dan banyak lagi.

Selayaknya kasih sayang antara saudara kandung tak dapat dinilai dengan uang berapapun.

Cinta kasih tak ternilai dan abadi.

Selasa, 12 Juli 2011

SEDIKIT BIAYA UNTUK PRESTASI ITU BARU LUAR BIASA

Cukup banyak di antara kita yang memaksakan diri mengeluarkan banyak uang bahkan sampai berhutang hanya untuk sebuah gengsi.
Menghamburkan banyak uang untuk mendapatkan pujian atau suatu status sosial adalah biasa.
Mengeluarkan sedikit biaya untuk sebuah prestasi itu baru luar biasa.

Sabtu, 11 Juni 2011

BENARKAH SEGALANYA PERLU UANG ?

Kita tahu suatu ungkapan sinis, “Uang bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya perlu uang”. Benarkah segalanya perlu uang ? Perlukah uang untuk melihat indahnya matahari terbit dan terbenam ? Perlukah uang untuk bercengkerama penuh kasih dengan keluarga di rumah ? Perlukah uang untuk bersyukur ? Berdoa kepada Tuhan di rumah sendiri, perlukah uang ?

Sekedar renungan akhir pekan tanpa perlu uang.

Jumat, 10 Juni 2011

HARTA SERINGKALI MEMBUAT KITA LEPAS KENDALI DAN LUPA DIRI

Tidak salah kita mencari lalu mengumpulkan uang dan harta selama dengan cara yang benar. Hanya saja harta seringkali membuat manusia lepas kendali dan lupa diri yang membuat kita tidak bahagia karena menimbulkan banyak persoalan hidup. Bisakah kita mengendalikan diri ketika Tuhan meminjamkan hartaNya kepada kita ?

Kamis, 09 Juni 2011

BUKAN HARTA TAPI RASA SYUKUR DAN IKHLAS MENJADI KUNCI KEBAHAGIAAN

Harus diakui kita semua pasti membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun kita tidak membutuhkan harta berlimpah untuk kebahagiaan. Logika keliru selama ini, semakin kaya akan semakin bahagia. Belum tentu. Cukup banyak contoh orang kaya dan terkenal yang tidak bahagia, dari ketergantungan obat penenang sampai bunuh diri.

Kaya atau tidak, rasa syukur dan ikhlas yang menjadi kunci kebahagiaan.

Sabtu, 15 Januari 2011

MENGAPA TIDAK PERCAYA DENGAN KEIKHLASAN TANPA PAMRIH ?

Pada masa kini ketika kita memberikan bantuan atau tenaga dan pikiran semata-mata untuk kebaikan, tanpa pamrih, mengapa banyak orang tidak percaya bahkan sinis dan curiga ? Mengapa banyak orang tidak percaya dengan ketulusan dan keikhlasan ? Apakah semua harus berorientasi kepada kebendaan ? Kasarkah jika ada pertanyaan, apakah kita telah menjadi hamba dari uang dan harta ?

Sekedar renungan akhir pekan.

Senin, 10 Januari 2011

KEBAIKAN TIDAK DIUKUR DARI MATERI

Di jaman yang serba materialistik ini kita sering menilai seseorang semata-mata dari materi. Jika ada seseorang sering memberikan uang atau barang berharga kepada kita dinilai sebagai orang baik. Semudah itu menjadi orang baik kalau kita cukup memiliki harta, dengan membeli kebaikan ? Bagaimana kalau kita tidak cukup berharta ?

Sudah semestinya kebaikan tidak diukur dari materi yang diberikan.

Sabtu, 13 November 2010

MERUSAK ALAM MENAMBAH BENCANA ?

Bencana alam pasti terjadi tapi mengapa ulah kita manusia makin memperparah kerusakan alam ? Menyedot, menebang, mengotori dan sebagainya sumber daya alam kita, yang biasanya berlatar-belakang ekonomi. Perlukah alam tempat tinggal kita diperkosa hanya untuk uang ? Tidakkah kita ingat bahwa anak cucu kita juga masih akan tetap tinggal di alam ini???

Sekedar renungan akhir pekan.

Selasa, 31 Agustus 2010

MENJERUMUSKAN KE JURANG KEMALASAN

Memberi sedikit uang secara ikhlas kepada orang lain tentu tidak salah, namun sadarkah bahwa memberi sedikit uang kepada pengemis, kita telah MENJERUMUSKANNYA KE JURANG KEMALASAN YANG DALAM. Berilah bantuan kepada orang yang telah mau berusaha keras bekerja dengan jujur tapi belum beruntung.

Senin, 30 Agustus 2010

MENGEMIS ADALAH BENTUK KEMALASAN

Mengemis apapun caranya adalah bentuk kemalasan, mengharapkan uang hanya dari belas kasihan, bukan dari bekerja. Seorang yang cacat sekalipun dapat bekerja menghidupi keluarganya bahkan tidak sedikit yang berprestasi. Mengemis adalah ciri kemalasan, tidak memiliki rasa malu dan harga diri bahkan tidak menghormati Sang Pencipta yang telah memberinya akal budi sebagai modal utama untuk menafkahi dirinya.

Sabtu, 14 Agustus 2010

PUASA MELATIH PENGENDALIAN KEUANGAN KELUARGA ?

Sekedar renungan akhir minggu : “Melatih pengendalian diri melalui berpuasa apakah termasuk pengendalian keuangan keluarga ? Logika sederhana, dengan berpuasa apakah menambah atau menghemat konsumsi makanan dan pengeluaran uang belanja ???”

Selasa, 20 Juli 2010

UANG BUKAN TUJUAN HIDUP

Jangan keliru ! sadarilah uang bukanlah tujuan hidup kita. Kita perlu uang sebagai ALAT untuk mencapai tujuan hidup yaitu kebahagiaan. Analogi ringkasnya begini misalkan kita perlu ALAT transportasi berupa motor untuk mencapai tujuan ke pasar. Tujuan kita adalah pasar bukan motor. Keliru kalau kita berusaha mencari ALAT (contoh ini: motor) sebanyak apapun karena tidak akan pernah sampai tujuan yang sebenarnya.