Tampilkan postingan dengan label kecewa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecewa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

EMOSI BERLEBIHAN MENGHASILKAN KEKECEWAAN-KEKECEWAAN LEBIH BERAT

Setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain, tentu kita sering merasa kecewa kepada orang lain. Kecewa karena beragam alasan dari ingkar janji sampai orang lain melanggar hak-hak kita. Pada intinya kecewa karena sikap dan perbuatan orang lain tidak sejalan dengan kemauan kita. 

Apapun kekecewaan kita usahakan tenangkan diri dulu. Sebaiknya tidak merespon dengan emosi berlebihan. Cobalah diam sejenak dan tarik nafas dalam-dalam. Setelah tenang dan pikiran cukup jernih lalu carilah solusi yang baik. 

Jikalau kita mengatasi kekecewaan dengan emosi yang berlebihan, seringkali menghasilkan kekecewaan-kekecewaan berikutnya yang mungkin lebih berat.

Rabu, 16 November 2011

KADANG BISA BANGGA, KADANG KECEWA KEPADA DIRI SENDIRI


Pernahkah kita kecewa kepada diri sendiri ? 

Kalau menjawab, ”Tidak pernah”, kita bisa digolongkan orang yang sangat percaya diri, malah bisa dikatakan tinggi hati. Merasa selalu benar, tidak pernah salah. Selalu menyalahkan orang lain dan lingkungan. Dalam kondisi ini kita mungkin menjadi stagnan, tidak pernah mau memperbaiki diri. 

Andai jawabannya, ”Sering”, bisa dibilang kita termasuk orang yang kurang percaya diri, bahkan rendah diri (bukan rendah hati). 

Jika menjawab, ”Kadang-kadang”, kita tergolong orang yang cukup percaya diri. Kadang kita kecewa kepada diri sendiri karena memang ada yang salah dengan diri kita yang memang harus diperbaiki. 

Manusia tak mungkin sempurna, selalu benar. Namun manusia juga tak mungkin selalu salah. Kadang bisa salah, kadang bisa benar. Kadang bisa kecewa, kadang juga bisa bangga dengan diri sendiri.

Selasa, 15 November 2011

MENGUBAH KEBIASAAN DALAM MENGHADAPI KEKECEWAAN


Kecewa dengan cuaca yang panas, kita mengeluh,”Brengsek ! Panas sekali !”. Saat hujan turun, tanpa sadar kita mengumpat,”Sialan ! Hujan !”. Mau menelpon tidak ada sinyal, kita menghardik,”Setan ! Nggak ada sinyal !”. Dan banyak lagi contoh lainnya yang kita alami sehari-hari. Semua itu adalah pola pikir dan sikap sebagai respon dari kekecewaan yang terbentuk selama bertahun-tahun sehingga menjadi kebiasaan mendarah-daging yang kemudian bisa saja diteladani oleh anak cucu kita. 

Pertanyaannya, apa ruginya dengan kebiasaan itu ?. Kalau kekecewaan ringan seperti di atas saja kita menghadapinya dengan keluhan, umpatan dan hardikan, lalu bagaimana kita mengatasi kekecewaan yang berat ? Kemungkinan besar kita akan merespon dengan amarah yang meluap dan bisa tak terkendali. Amarah ini pasti merugikan diri kita sendiri. Amarah bisa membuat kita melakukan perbuatan konyol yang tidak rasional. Kemarahan yang terus berkobar bisa menjadi benci dan dendam yang tentu saja membuat hidup kita tidak bahagia. 

Jadi ubahlah pola pikir dan sikap kita ketika menghadapi kekecewaan ringan agar menjadi kebiasaan yang positif. Manakala udara panas, bersyukurlah, “Untung panas, saya jadi bebas bepergian”. Waktu hujan turun, berterima-kasihlah kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan atas air melimpah yang dicurahkan”. Pada saat tak ada sinyal, tersenyumlah,”Wah nggak ada sinyal, nggak bisa telpon tapi bisa menghemat pulsa”. Jangan biarkan kekecewaan merenggut kebahagiaan kita.

Senin, 14 November 2011

MENGATASI RASA KECEWA

Kalau mau jujur, bisa dikatakan setiap hari kita merasa kecewa. Selama kita hidup, kita tak bisa menghindari rasa kecewa. Dari kekecewaan ringan sampai yang berat. Cukup banyak orang yang gagal atau kurang mampu mengatasi dan mengelola kekecewaan dengan baik. Lalu menimbulkan beragam ekspresi dari murung, mengeluh, mengumbar sumpah serapah, caci maki sampai rasa benci dan dendam. 

Kita memang tak bisa menghindar dari rasa kecewa tapi kita seharusnya bisa mengatasi bahkan mengelola rasa kecewa. Selain kita berusaha mengatasi penyebab dari kekecewaan, kita juga harus mengubah pola pikir dan sikap. Dulu mungkin kita banyak mengeluh dan mencaci maki. Sekarang cobalah berpikir, adakah gunanya kita mengeluh dan mencaci maki ? Bukankah sikap ini malah menambah emosi dan stress kita? Cobalah kita menahan diri dengan diam menenangkan diri. Semestinya kita akan merasa lebih tenang dan lebih baik tanpa emosi. 

Cobalah atasi kekecewaan dengan mengubah pola pikir dan sikap kita.

Selasa, 28 Juni 2011

BALAS DENDAM HANYA AKAN MENIMBULKAN MASALAH TAK BERKESUDAHAN

Dendam adalah level tertinggi dari rasa kecewa. Emosi negatif dahsyat bagaikan gunung berapi yang akan meletus. Kita sering berpikir harus melepaskan emosi tersebut dengan membalas dendam agar tidak lagi merasa dendam. Kenyataannya setelah membalas dendam akan timbul masalah baru yang bahkan mungkin lebih berat.

Balas dendam hanya akan menimbulkan masalah tak berkesudahan.

Senin, 27 Juni 2011

DENDAM ADALAH "MONSTER" YANG MERENGGUT KEBAHAGIAAN KITA

Kita semua pasti pernah dikecewakan orang lain, mungkin dikhianati, melakukan kesalahan fatal bagi kita dan sebagainya. Kekecewaan yang memuncak berkembang menjadi kebencian. Ketika kebencian ini begitu besar dan tak termaafkan, jadilah dendam. Kala dendam bersemayam dalam diri kita, muncullah “monster” yang merenggut kebahagiaan kita. Enyahkan “monster” itu dari pikiran dan hati kita !

Kamis, 08 Juli 2010