Kamis, 18 Agustus 2011

BERBAGI SEBUAH HADIAH CINDERAMATA

Dengan penuh kebahagiaan, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan, Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, kami akan berbagi sebuah cinderamata berupa 1 unit Memory Card Reader All in One persembahan dari “e Class Computer” kepada seorang bahagiawan/wati yang paling sering berbagi cerita, opini, tanggapan dan sebagainya ( tak termasuk mengklik suka / like ) di Berbagi Kebahagiaan Forum Facebook.

Berlaku dari 18 Agustus – 30 September 2011.

Nama seorang yang berbahagia tersebut akan diumumkan pada awal Oktober 2011. Terima kasih dan salam bahagia selalu.

SELAMAT HUT KEMERDEKAAN INDONESIA KE 66

Semoga ketika kita berbicara untuk kepentingan bangsa dan negara yang dimaksud adalah benar-benar kepentingan sebagian besar rakyat Indonesia, bukan “bangsa dan negara di lingkungan dekat” kita sendiri.

Selasa, 16 Agustus 2011

TELADAN APA SETELAH 66 TAHUN MERDEKA ?

Pemimpin adalah teladan. Teladan apa dari pemimpin yang selalu berbicara bagi kepentingan bangsa namun dalam perilaku seringkali lebih banyak memikirkan kekuasaan dan kepentingannya sendiri ? Teladan keegoisan ? Individualistis ? Kemunafikan ? Ketidakjujuran ? Teladan apa setelah 66 tahun Indonesia merdeka ?

Senin, 15 Agustus 2011

SETELAH MERDEKA KEEGOISAN SEMAKIN MENGEMUKA

Dulu sebelum kemerdekaan, banyak orang yang berjuang bagi masyarakat dan bangsa bahkan rela mengorbankan nyawa. Kini setelah 66 tahun kemerdekaan, semakin banyak saja orang yang berjuang bagi kepentingannya sendiri bahkan tega mengorbankan masyarakat dan menggadaikan negara. Lebih menyedihkan mereka selalu bicara untuk kepentingan bangsa dan negara.

Mengapa setelah merdeka keegoisan semakin mengemuka ?

Sabtu, 13 Agustus 2011

MENGAPA KHAWATIR SALAH PAHAM UNTUK IKHLAS BERBUAT KEBAIKAN ?

Ada keluhan, “Mengapa ketika saya mengatakan dan berbuat positif sering disalahartikan negatif oleh orang lain ? Saya dibilang munafik, sok tau, pasti ada maksud terselubung dan sebagainya”.

Tanyakan diri sendiri, “Apa saya sungguh ikhlas dalam berbuat kebaikan ? Tidak ada maksud apapun selain kebaikan itu sendiri ?” Kalau, “Ya”. Mereka salah menilai lalu mengapa terpengaruh ?

Renungan akhir pekan tanpa salah paham.

Jumat, 12 Agustus 2011

SALING MEMAAFKAN PENYELESAIAN TERBAIK KESALAHPAHAMAN

Sebaris kalimat yang kita ucapkan atau tuliskan, bisa ditanggapi dan direspon berbeda oleh setiap orang. Misalkan seorang pria mengucapkan, “Anda cantik” kepada 3 orang wanita di waktu dan tempat berlainan. Katakanlah ketiga wanita tersebut bernama A, B dan C.

Si A seorang wanita berpenampilan biasa saja yang suka berdandan akan menanggapinya dengan senang hati dan menganggapnya sebagai pujian lalu merespon dengan tingkah laku yang lebih bersahabat.

Si B berpenampilan memang cantik dan sudah sering mendapat pujian seperti itu, akan menanggapi dan merespon biasa saja karena menganggapnya sebagai rayuan banyak pria kepadanya.

Wanita ketiga si C berpenampilan kurang menarik, akan merasa tidak senang, bahkan dianggapnya sebagai hinaan atau olok-olok. Dia marah dan pergi.

Ilustrasi itu hanya melihat sedikit faktor dari sangat banyak faktor yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang. Faktor yang belum dilihat seperti kedekatan hubungan antara si pria dan wanita, suasana lingkungan, latar belakang kehidupan, topik pembicaraan, cara berbicara dan banyak lagi.

Semua faktor tersebut yang membuat suatu aksi menimbulkan banyak reaksi yang berlainan. Sepatah kalimat pujian bisa dianggap hinaan, demikian juga sebaliknya suatu hinaan bisa ditanggapi sebagai sebuah dorongan. Sebuah niat baik bisa ditanggapi tidak baik dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Ketika suatu aksi menimbulkan reaksi yang tidak sesuai harapan, terjadilah kesalahpahaman yang disebabkan oleh faktor-faktor yang diuraikan di atas. Kita sulit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Akibatnya sering terjadi salah paham. Sesuatu yang kita sampaikan ditanggapi berbeda dari yang diharapkan. Kesalahpahaman ini tentu terjadi secara tidak sengaja dan banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesalahpahaman jelas menimbulkan masalah, dari ringan sampai berat. Masalahnya adalah satu pihak merasa pihak lain melakukan kesalahan terhadap dirinya dan salah satu atau kedua belah pihak belum tahu kalau hal itu terjadi karena kesalahpahaman. Salah satu pihak tanpa sadar dan tanpa sengaja melakukan kesalahan.

Kesalahpahaman ini justru paling banyak terjadi dalam hubungan keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Kedekatan hubungan, intensitas bertemu dan berinteraksi menyebabkan komunikasi kurang terkontrol. Merasa masih satu keluarga, masing-masing anggotanya kurang peduli dengan tata cara dan tata krama berkomunikasi.

Sebagai contoh kecil. Seorang suami sebagai kepala keluarga merasa wajar dan berhak membentak dan menghardik istri dan anaknya. Bentakan dan hardikan ini sesungguhnya bertujuan dan bermaksud baik, mungkin bagi si suami untuk kedisiplinan. Tanpa disadari sang ayah, “maksud baik ini” telah melukai perasaan buah hatinya sendiri. Lebih parah lagi istri dan anaknya takut atau segan atau tidak mau mengatakan terus terang perasaannya yang terluka. Kalaupun mau mengatakannya, sang ayah tidak mau mendengarkan atau mendengar tapi tak peduli. Bisa dibayangkan jika kesalahpahaman antara “maksud baik ayah” dengan perasaan terluka istri dan anak ini berlangsung bertahun-tahun.

Kalau saja sang ayah tahu tata cara dan tata krama berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Lalu istri dan anak dapat melakukan komunikasi dengan baik, mengungkapkan bahwa mereka merasa terluka dan tidak nyaman atas perlakuan ayahnya. Kesalahpahaman dalam hubungan keluarga bisa dikurangi seminimal mungkin.

Salah satu tata cara dan tata krama berkomunikasi yang terpenting adalah memohon dan memberi maaf secara tulus. Kesalahpahaman adalah kesalahan yang terjadi tanpa sengaja dan tanpa disadari. Kesalahan seperti ini sangat patut untuk saling memaafkan.

Rabu, 10 Agustus 2011

KESALAHPAHAMAN JUSTRU BANYAK TERJADI DALAM KELUARGA

Diakui atau tidak, kesalahpahaman justru banyak terjadi dalam keluarga. Antara suami - istri, orang tua – anak, antar saudara, menantu – mertua dan kakek/nenek – cucu. Barangkali karena kedekatan hubungan, sering bertemu dan berinteraksi, lupa atau tidak peduli dengan waktu, tempat, emosi dan tata krama antar anggota keluarga. Untuk mengatasinya, keluargalah pihak pertama dan utama yang wajib saling memaafkan.